Pencarian

Thursday, February 18, 2016

Makalah GHADAB



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Islam memerintahkan agar manusia menggunakan anggotanya untuk berbuat baik terhadap Tuhan, sesama manusia juga terhadap lingkungan, tidak untuk berbuat jahat, karena pada asalnya segala anggota tubuh manusia itu dijadikan Tuhan sebagai nikmat dan amanah bagi manusia. Dan karena itu al-Ghazali berpendapat, menggunakan nikmat dan amanah Tuhan untuk berbuat dosa dan maksiat adalah kejahatan yang terbesar dan kedurhakaan yang tidak ada bandingnya terhadap Tuhan.
Pada dasarnya sifat-sifat yang tercela dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu maksiat lahir dan maksiat batin. Maksiat lahir ialah segala sifat yang tercela yang dikerjakan oleh anggota lahir seperti tangan, mulut, mata dan sebagainya. Sedang maksiat batin ialah segala sifat yang tercela yang diperbuat oleh anggota batin, yaitu hati. Dan dalam hal ini kami akan memfokuskan pembahasan pada maksiat batin.
Imam al-Ghazali menyebut sifat-sifat tercela ini dengan sifat-sifat muhlikat, yakni segala tingkah laku manusia yang dapat membawanya kepada kebinasaan. Sifat tercela ini beliau sebut juga sebagai suatu kehinaan (razilah). Karena itu beliau menamakan marah dengan razilatul ghadab (kehinaan marah), dengki dengan razilatul hasad (kehinaan dengki), menggunjing dengan razilatul ghibah (kehinaan menggunjing), adu domba dengan razilatul namimah (kehinaan adu domba), egois dengan razilatul ananiah (kehinaan egois). Sebagaimana topik yang akan kami bahas, yakni terkait tentang pengertian, akibat-akibatnya, sebab-sebabnya dan usaha-usaha untuk menghindari dan menghilangkannya.



B.     Rumusan Masalah
1.      Pengertian Ghadab
2.      Tingkatan-Tingkatan Ghadab
3.      Bahaya-Bahaya dari Sifat Ghadab
4.      Contoh Perilaku Ghadhab
5.      Cara Menghindari Ghadhab

C.    Tujuan
1.         Mengetahui tentang pengertian Ghadab
2.         Mengetahui tentang Tingkatan-Tingkatan Ghadab
3.         Mengetahui tentang Bahaya-Bahaya dari Sifat Ghadab
4.         Mengetahui tentang Contoh Perilaku Ghadhab
5.         Mengetahui tentang Cara Menghindari Ghadhab






BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Ghadab
Ghadab (pemarah) artinya sifat seseorang yang mudah marah. Setiap melihat atau menghadapi persoalan kehidupan yang tidak disukai sekecil apapun langsung marah. Setiap orang memang dikarunia oleh Allah SWT gejala emosional seperti senang, susah, geli, dan marah. Dengan demikian pada dasarnya setiap orang bisa marah, namun karena marah dapat menimbulkan berbagai akibat negatif, maka Allah SWT dan Rasul-Nya memerintahkan agar kita dapat menahan marah tersebut. Disamping kita diperintahkan untuk menahan marah, kita juga dilarang memancing kemarahan orang lain.

B.     Tingkatan-Tingkatan Ghadab
1.      Tingkatan Rendah
Sikapnya tidak kelihatan marah, sehingga orang lain sulit untuk menilai. Karena, gejolak marahnya yang telah menyebar ditutupi oleh sifat yang tenang
2.      Tingkatan Sedang
Sikap marahnya kelihatan, tetapi masih dapat dikendalikan oleh akal. ia marah sesuai dengan kadar masalah yang sedang dihadapi
3.      Tingkatan Tinggi
Sikap marahnya cepat kelihatan, karena marahnya berlebihan. Marah semacam ini sulit dikendalikan oleh akal, karena sikapnya sudah dikendalikan oleh nafsu. Orang yang memiliki sifat marah tingkatan tinggi disebut pemarah.





C.    Bahaya-Bahaya dari Sifat Ghadab
1.      Dapat menghilangkan keseimbangan hati, akal dan petunjuk
2.      Wajah akan nampak lekas lebih tua
3.      Nafsunya mudah dikendalikan oleh syaitanirrajiim
4.      Dijauhi orang lain
5.      Dapat menambah dosa dan mengurangi amal baik manusia
6.      Dibenci oleh Allah SWT dan Rasul-Nya, karena dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam perbuatan-perbuatan dosa besar.

Lawan dari sifat marah adalah sifat sabar. Sabar itu termasuk akhlakul karimah. Dan Allah SWT sangat mencintai orang yang bersifat sabar dalam kehidupannya. Sebagaimana Firman Allah SWT yang artinya: "...Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan."QS. Ali-'Imraan : 134

D.    Contoh Perilaku Ghadhab
1.      Pak guru marah pada saat diberitahu bahwa tulisan dan jawaban beliau ada yang salah.
2.      Seorang teman mudah marah ketika diberitahu bahwa perilakunya telah menunjukkan kesalahan di depan umum.
3.      Kakak memarahi adiknya ketika bajunya ditumpahi minuman yang akan disuguhkan kepadanya.








E.     Cara Menghindari Ghadhab
1.      Apabila seorang yang sedang marah itu dalam keadaan sedang berdiri, maka berusaha duduk. Dan apabila kemarahan itu dilakukan ketika sedang duduk, maka berusaha tiduran atau berbaring sambil membaca istighfar. Karena kemarahan itu bagaikan bara api yang hanya dapat dipadamkan dengan air. Sikap duduk dari berdiri dan berbaring dari duduk adalah bagian dari airnya berperilaku.
2.      Apabila sedang marah, maka berwudulah. Karena berwudu dengan air yang suci dan mensucikan, akan mampu mensucikan semua tindakan yang kurang suci, seperti kemarahan.
3.      Membaca ta’awudz (memohon perlindungan Allah dari godaan syaitan yang selalu membangkitkan amarah.






BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Islam mengajarkan umatnya untuk memilih sifat pemaaf terhadap sesama manusia. Seperti memaafkan perilaku teman yang pernah menghina kita, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Sikap mudah memberi maaf atas kesalahan orang lain, memang bukan mudah untuk dilakukan. Sikap ini hanya dimiliki oleh mereka yang benar-benar bertaqwa kepada Allah SWT. Memaafkan antar sesama termasuk salah satu sikap untuk menghindari perilaku ghadab atau marah. Sikap lain yang bisa kita lakukan saat kita sedang marah adalah dengan berwudlu.

B.     Saran
Dari pembahasan diatas tentang \ ghadab, jelaslah merupakan akhlak tercela yang sangat dibenci oleh Allah swt. karena sangat bertentangan dengan agama Islam serta aturan syari’at. Mengapa Allah swt. melarang ketiga hal tersebut adalah karena terlalu banyak mudharatnya daripada kemaslahatannya baik itu didunia dan di akhirat atau bagi dirisendiri atau bagi orang lain.













DAFTAR PUSTAKA



No comments:

Pencarian isi Blog