Pencarian

Friday, March 11, 2016

makalah sejarah telaga warna



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Panorama pemandangan Telaga Warna di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Warna air di telaga ini terjadi karena adanya kawah yang berada di dasar telaga, dominan warna di telaga ini adalah warna hijau dan biru. Walaupun di dasar telaga terdapat kawah namun air di telaga ini tetap dingin. Warna sewaktu-waktu dapat berubah, hal ini dipengaruhi oleh cahaya matahari yang menyinari telaga. Pemandangan yang indah dan suasana alam yang masih sangat alami, sangat cocok untuk rekreasi bersama teman maupun keluarga untuk melepas kepenatan aktivitas dan rutinitas hari-hari yang melelahkan.
Selain Telaga Warna masih ada juga beberapa tempat wisata seperti komplek candi Pandawa dan kawah Sikidang. Yang tidak kalah menarik dari Dieng adalah adanya tempat untuk melihat matahari terbit (sunrise) Sikunir, bukit Sikunir ini merupakan salah satu tujuan utama para wisatawan yang berwisata ke Dieng sebelum menjelajah Telaga warna, Komplek Candi Pandawa, dan Kawah Sikidang. Suasana yang dingin dan sering turunnya hujan merupakan salah satu ciri dari dataran tinggi Dieng. Jadi untuk berkunjung ke dataran tinggi dieng harus pintar-pintar memilih waktu dan berdoa semoga cuaca di Dieng cerah, karena kalau cuaca cerah akan mudah untuk menjelajah semua tempat wisata di dataran tinggi Dieng.

B.     Rumusan Masalah
Agar penjelasan lebih terperinci, penulis akan membatasi permasalahan tersebut. Adapun permasalahan tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana sejarah telaga warna ?
2.      Bagaimana sinopsis legenda telaga warna?
3.      Bagaimana unsur instrinsik telaga warna?
4.      Apa saja amanat yang disampaikan dalam legenda telaga warna ?


A.    Tujuan Penelitian
Tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Memberi penjelasan mengenai sejarah telaga warna.
2.      Memberi penjelasan mengenai sinopsis telaga warna.
3.      Memberi penjelasan mengenai unsur instrinsik legenda telaga warna.




BAB II
LANDASAN TEORI

A.    Pengertian Legenda
Legenda adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang mempunyai cerita sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. Oleh karena itu, legenda sering kali dianggap sebagai "sejarah" kolektif (folk history). Walaupun demikian, karena tidak tertulis, maka kisah tersebut telah mengalami distorsi sehingga sering kali jauh berbeda dengan kisah aslinya. Oleh karena itu, jika legenda hendak dipergunakan sebagai bahan untuk merekonstruksi sejarah, maka legenda harus dibersihkan terlebih dahulu bagian-bagiannya dari yang mengandung sifat-sifat folklor
Menurut Buku Sari Kata Bahasa Indonesia, Legenda adalah cerita rakyat zaman dahulu berkaitan dengan peristiwa dan asal usul terjadinya suatu tempat. Contohnya: Sangkuriang dan Batu Menangis
Menurut Pudentia[butuh rujukan], legenda adalah cerita yang dipercaya oleh beberapa penduduk setempat benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci atau sakral yang juga membedakannya dengan mite. Dalam KBBI 2005,  legenda adalah cerita rakyat pada zaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah. Menurut Emeis[butuh rujukan], legenda adalah cerita kuno yang setengah berdasarkan sejarah dan yang setengah lagi berdasarkan angan-angan. Menurut William R. Bascom, legenda adalah cerita yang mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan mite, yaitu dianggap benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Menurut Hooykaas, legenda adalah dongeng tentang hal-hal yang berdasarkan sejarah yang mengandung sesuatu hal yang ajaib atau kejadian yang menandakan kesaktian.


B.     Ciri-Ciri Legenda
Yus Rusyana (2000) mengemukakan beberapa ciri legenda, yaitu:
1.      Legenda merupakan cerita tradisional karena cerita tersebut sudah dimiliki masyarakat sejak dahulu.
2.      Ceritanya biasa dihubungkan dengan peristiwa dan benda yang berasal dari masa lalu, seperti peristiwa penyebaran agama dan benda-benda peninggalan seperti mesjid, kuburan dan lain-lain.
3.      Para pelaku dalam legenda dibayangkan sebagai pelaku yang betul-betul pernah hidup pada masyarakat lalu. Mereka itu merupakan orang yang terkemuka, dianggap sebagai pelaku sejarah, juga dianggap pernah melakukan perbuatan yang berguna bagi masyarakat.
4.      Hubungan tiap peristiwa dalam legenda menunjukan hubungan yang logis.
5.      Latar cerita terdiri dari latar tempat dan latar waktu. Latar tampat biasanya ada yang disebut secara jelas dan ada juga yang tidak. Sedangkan latar waktu biasanya merupakan waktu yang teralami dalam sejarah.
6.      Pelaku dan perbuatan yang dibayangkan benar-benar terjadi menjadikan legenda seolah-olah terjadi dalam ruang dan waktu yang sesungguhnya. Sejalan dengan hal itu anggapan masyarakat pun menjadi seperti itu dan melahirkan perilaku dan perbuatan yang benar-benar menghormati keberadaan pelaku dan perbuatan dalam legenda.



BAB III
PEMBAHASAN

A.    Sinopsis Legenda Telaga Warna.
Jaman dahulu ada sebuah kerajaan di Jawa Barat bernama Kutatanggeuhan. Kutatanggeuhan merupakan kerajaan yang makmur dan damai. Rakyatnya hidup tenang dan sejahtera karena dipimpin oleh raja yang bijaksana. Raja Kutatanggeuhan bernama Prabu Suwartalaya dan permaisurinya bernama Ratu Purbamanah. Sayang Prabu dan Ratu belum dikaruniai keturunan sehingga mereka selalu merasa kesepian. Rakyat pun sangat mengkhawatirkan keadaan ini, karena siapa yang akan menggantikan Prabu dan Ratu kelak?
Akhirnya Raja memutuskan untuk bersemedi. Dia pergi ke gunung dan menemukan sebuah gua. Disanalah dia bersemedi, berdoa kepada Tuhan supaya dikaruniai keturunan. Setelah berhari-hari Prabu Suwartalaya berdoa, suatu hari tiba-tiba terdengar suara gaib. “Benarkah kau menginginkan keturunan Prabu Suwartalaya?” kata suara gaib tersebut. “Ya! Saya ingin sekali memiliki anak!” jawab Prabu Suwartalaya. “Baiklah! Doamu akan terkabul. Sekarang pulanglah!” kata suara gaib.
Maka Prabu Suwartalaya pun pulang dengan gembira. Benar saja beberapa minggu kemudian, Ratu pun mengandung. Semua bersuka cita. Terlebih lagi ketika sembilan bulan kemudian Ratu melahirkan seorang putri yang cantik. Dia diberi nama Putri Gilang Rukmini. Prabu Suwartalaya mengadakan pesta yang meriah untuk merayakan kelahiran putri mereka. Putri Gilang Rukmini pun menjadi putri kesayangan rakyat Kutatanggeuhan.
Beberapa tahun telah berlalu, putri Gilang Rukmini tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita. Sayang putri Gilang Rukmini sangat manja dan berperangai tidak baik, mungkin karena Prabu dan Ratu sangat memanjakannya. Maklumlah anak semata wayang. Apapun yang diminta oleh putri pasti segera dituruti. Jika tidak putri akan sangat marah dan bertindak kasar. Namun rakyat tetap mencintainya. Mereka berharap suatu hari perangai putri akan berubah dengan sendirinya.
Seminggu lagi putri Gilang Rukmini akan berusia tujuh belas tahun. Prabu Suwartalaya akan mengadakan pesta syukuran di istana. Semua rakyat boleh datang dan memberikan doa untuk putri Gilang Rukmini. Rakyat berkumpul dan merencanakan hadiah istimewa untuk putri kesayangan mereka. Akhirnya disepakati bahwa mereka akan menghadiahkan sebuah kalung yang sangat indah. Kalung itu terbuat dari emas terbaik dan ditaburi batu-batu permata yang beraneka warna. Maka rakyat dengan sukarela menyisihkan uang mereka dan mengumpulkannya untuk biaya pembuatan hadiah tersebut. Mereka memanggil pandai emas terbaik di kerajaan untuk membuatnya.
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Rakyat berduyun-duyun datang ke halaman istana tempat pesta ulang tahun putri Gilang Rukmini diadakan. Di depan istana sudah berdiri sebuah panggung yang megah. Rakyat bersorak-sorai saat Prabu dan Ratu menaiki panggung. Apalagi ketika akhirnya putri Gilang Rukmini keluar dari istana dan melambaikan tangannya. Rakyat sangat gembira melihat putri yang cantik jelita. Pesta pun berlangsung dengan meriah.
Kini tiba saatnya rakyat mempersembahkan hadiah istimewa mereka. Mereka memberikan kotak berisi hadiah itu kepada putri Gilang Rukmini. Prabu Suwartalaya membuka kotak tersebut dan mengeluarkan kalung beraneka warna yang sangat indah dan memberikannya kepada putri Gilang Rukmini. putri Gilang Rukmini memandang kalung itu dengan kening berkerut. Prabu Suwartalaya memandang putrinya, “Ayo nak, kenakan kalung itu! Itu adalah tanda cinta rakyat kepadamu. Jangan kecewakan mereka nak!” “Iya putriku. Kalung itu sangat indah bukan. Ayo kenakan! Biar rakyat senang,” kata Ratu Purbamanah. “Bagus apanya? Kalung ini jelek sekali. Warnanya norak, kampungan! Aku tidak mau memakainya!” teriak putri Gilang Rukmini.
Dia membanting kalung itu ke lantai hingga hancur. Prabu Suwartalaya, Ratu Purbamanah dan rakyat Kutatanggeuhan hanya bisa tertegun menyaksikan kejadian itu. Lalu tangis Ratu Purbamanah pecah. Dia sangat sedih melihat kelakuan putrinya. Akhirnya semua pun meneteskan air mata, hingga istana pun basah oleh air mata mereka. Mereka terus menangis hingga air mata mereka membanjiri istana, dan tiba-tiba saja dari dalam tanah pun keluar air yang deras, makin lama makin banyak. Hingga akhirnya kerajaan Kutatanggeuhan tenggelam dan terciptalah sebuah danau yang sangat indah.
Kini danau itu masih bisa kita temui di daerah Puncak, Jawa Barat. Danau itu dinamakan Telaga Warna, karena jika hari cerah, airnya akan memantulkan cahaya matahari hingga tampak berwarna-warni. Katanya, itu adalah pantulan warna yang berasal dari kalung putri Gilang Rukmini.

B.     Unsur Intrinsik Legenda Telaga Warna
1.      Tema
Asal Usul Telaga Warna

2.      Tokoh
·         Prabu
·         Permaisuri
·         Rakyat

3.      Penokohan
·         Prabu = arif dan bijaksana serta sangat menyanyangi putrinya
“ prabu mengumpulkan semua hadiah dari rakyat dan berniat untuk membagikannya kembali.
·         Permaisuri = baik dan memanjakan putrinya.
‘ ayolah nak, kata permaisuri sambil mengambil kalung itu hendak memakaikannya dileher putrinya “.
·         Putri = Manja dan sombong
“ aku tak mau memakai kalung itu, kalung itu jelek !!!
·         Rakyat = baik dan sangat peduli kepada putri.
“ putriku, sekarang kamu sudah dewasa, lihatlah kalung yang indah ini. Kalung ini hadiah dari rakyat kita, mereka sangat menyanyangimu “.

4.      Alur = Maju
5.      Latar
·         Tempat : kerajaan dan hutan
·         Waktu : pada zaman dahulu
·         Suasana : gembira

6.      Amanat : kita harus menghargai pemeberian orang lain.



BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kalau kita pergi ke daerah puncak, Jawa Barat, disana terdapat sebuah telaga yang bila dilihat pada hari cerah akan terkesan airnya berwarna-warni. Telaga itu nemanya Telaga Warna dan konon merupakan air mata tangisan seorang ratu.

B.     Saran
Saran kami sebagai penulis makalah ini, adalah sebagai berikut: Sebaiknya siswa tidak mengikuti kelakuan buruk dari Malin Kundang seperti dalam cerita tersebut.



DAFTAR PUSTAKA



















No comments:

Pencarian isi Blog