Pencarian

Saturday, March 5, 2016

ARISTOTELES DAN SEJARAH PERKEMBANGAN PSIKOLOGI


Ahli filsafat terbesar di dunia sepanjang zaman, bapak peradaban Barat, bapak ensiklopedi, bapak ilmu pengetahuan, atau guru(nya) para ilmuwan adalah berbagai julukan yang diberikan pada ilmuan ini. Berbagai temuannya seperti logika yang disebut juga dengan ilmu mantik yaitu pengetahuan tentang cara berpikir dengan baik, benar, dan sehat,  membuat namanya begitu dikenal oleh setiap orang di seluruh dunia yang pernah mengecap pendidikan.

Begitu juga dengan biologi, fisika, botani, astronomi, kimia, meteorologi, anatomi, zoologi, embriologi, dan psikologi eksperimental merupakan temuannya juga. Penemuan-penemuan yang Sudah 2.000 tahun lebih, namun istilah-istilah yang dipakainya pada berbagai ciptaan atau temuannya masih dipakai sampai sekarang, seperti: informasi, relasi, energi, kuantitas, kualitas, individu, substansi, materi, esensi, dan sebagainya. Disamping itu, ia juga seorang pengarang yang telah menghasilkan lebih dari 50 buah buku yang semuanya dilengkapi dengan uraian yang sistematis, jelas, dan dalam.
 Pria yang lahir di Stagirus, Macedonia, pada tahun 384 sM, inilah orang pertama di dunia yang dapat membuktikan bahwa bumi bulat. Pembuktian yang dilakukannya dengan jalan melihat gerhana.
Sepuluh jenis kata seperti yang dikenal orang saat ini seperti; kata kerja, kata benda, kata sifat, dan sebagainya merupakan pembagian kata hasil pemikirannya. Dia jugalah yang mengatakan bahwa “manusia adalah makhluk sosial”, bahwa “tiap pernyataan harus dibuktikan kebenarannya”, bahwa “kunci pengetahuan adalah logika”, dan “dasar pengetahuan adalah fakta”.
Aristoteles adalah ilmuan yang religius. Ia sangat percaya akan kuasa Tuhan. “Semua yang bergerak di alam semesta ini bergerak menuju Tuhan” katanya. Maka, “orang yang ingin bahagia harus berbuat baik sebanyak-banyaknya”, katanya lagi.
Ayahnya yang bernama Nicomachus, seorang dokter di istana Amyntas III, raja Macedonia, kakek Alexander Agung, meninggal ketika Aristoteles berusia 15 tahun. Karenanya, ia kemudian dipelihara oleh Proxenus, pamannya- saudara dari ayahnya. Pada usia 17 tahun ia masuk akademi milik Plato di Athena. Dari situlah ia kemudian menjadi murid Plato selama 20 tahun.
 Dengan meninggalnya Plato pada tahun 347 sM, Aristoteles meninggalkan Athena dan mengembara selama 12 tahun. Dalam jenjang waktu itu ia mendirikan akademi di Assus, dan menikah dengan Pythias yang tak lama kemudian meninggal. Ia lalu menikah lagi dengan Herpyllis yang kemudian melahirkan baginya seorang anak laki-laki yang ia beri nama Nicomachus, seperti nama ayahnya. Pada tahun-tahun berikutnya ia juga mendirikan akademi di Mytilene. Saat itulah ia sempat jadi guru Alexander Agung selama 3 tahun.
Di Lyceum, Athena pada tahun 335 sM, ia juga mendirikan semacam akademi. Di sinilah ia selama 12 tahun memberikan kuliah, berpikir, mengadakan riset dan eksperimen, serta membuat catatan-catatan dengan tekun dan cermat.
Pada tahun 323 sM Alexander Agung meninggal. Karena takut dibunuh orang Yunani yang membenci pengikut Alexander, Aristoteles akhirnya melarikan diri ke Chalcis. Tapi ajal memang tak mengenal tempat. Mau bersembunyi kemanapun, kalau ajal sudah tiba tidak ada yang bisa menolak. Demikian juga dengan tokoh ini, satu tahun setelah pelariannya ke kota itu, yaitu tepatnya pada tahun 322 sM, pada usia 62 tahun ia meninggal juga di kota tersebut, Chalcis, Yunani.
Berbicara mengenai perkembangan psikologi, Aristoteles adalah salah satu tokoh psikologi yang semula memperlajari filsafat kemudian melanjutkan pengetahuannya ke bidang psikologi. Wacana yang dapat kita ambil dari beliau adalah perbedaan antara kebaikan dan kebahagiaan. Kebaikan, menurut Aristoteles, adalah tujuan tiap sesuatu. Dan kebaikan merupakan tujuan akhir. Sedangkan kebahagiaan, ia juga merupakan kebaikan dalam kaitannya dengan pemiliknya dan merupakan kesempurnaan bagi pemiliknya. Kebahagiaan adalah kebaikan dalam kaitannya dengan seseorang atau orang lain; ia itu relatif, dan esensinya tidak pasti. Ia berbeda menurut orang yang mengupayakannya, tetapi kebaikan mutlak tidak ada perbedaannya.
Kebaikan dan kebahagiaan menurut Aristoteles. Adayang menjadi tujuan, dan ada yang bukan merupakan tujuan. Di antara yang pertama ada yang sempurna, dan ada yang tidak sempurna. Contoh dari yang pertama adalah kebahagiaan, sebab kalau kita mencapainya, kita tidak perlu lagi menambahnya dengan sesuatu yang lain. Contoh dari yang kedua adalah kesehatan dan kekayaan, karena meski kita peroleh, kita tetap memerluan lagi, hingga kita mencari yang lain. Sebagian kebaikan ada yang di jiwa, ada yang di tubuh, dan ada juga yang di luar keduanya.
Dua tingkatan inilah yang dibahas Aristoteles dalam bukunya yang berjudul Kebajikan Jiwa, dan dia memilih yang kedua. Aristoteles berkata: “Tingkatan kebajikan yang pertama yang dinamakan kebahagiaan adalah tingkatan di mana manusia mengarahkan kehendak dan upayanya menuju kemaslahatan dirinya di dunia inderawi ini termasuk perkara-perkara jiwa, tubuh, maupun keadaan jiwa yang berkaitan dengannya.”

No comments:

Pencarian isi Blog