BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Daerah Istimewa
Jogjakarta atau yang lebih dikenal dengan nama Yogyakarta, merupakan kota yang
terkenal dengan sejarah dan warisan budayanya, seperti keraton. Keraton
Yogyakarta didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I beberapa bulan pasca
perjanjian Giyanti di tahun 1755. Keraton sebagai pionir Yogyakarta mempunyai
pengaruh yang sangat penting bagi budaya masyarakat Jawa di Yogyakarta dan
merupakan bagian dari sejarah hidup dan tradisi masyarakat Jawa. Digunakan selain sebagai rumah sultan juga untuk acara
kebudayaan dan upacara penting Keraton Yogyakarta.
Masyarakat
percaya bahwa keraton merupakan referensi budaya mereka. Dengan fungsi yang
terbatas pada sektor informal namun keraton Yogyakarta tetap memiliki kharisma
tersendiri di lingkungan masyarakat Jawa khususnya di Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta. Beberapa studi yang
dilakukan pada tahun 1990 menunjukkan bahwa kesetiaan masyarakat kepada keraton
sangat tinggi. Pengaruh tersebut makin meluas semenjak raja dapat menggabungkan
kepemimpinan yang karismatik dengan kepemimpinan yang rasional dan modern.
Salah seorang
raja tersebut adalah Sultan Hamengku Buwono IX. Ia adalah figur yang menonjol
pada masa perjuangan saat mendirikan Republik Indonesia. Hubungan erat antara
masyarakat Yogyakarta dan keraton tampak nyata dalam kesenian, ritual, dan
upacara adat mereka. Misalnya pada pernikahan tradisional, pengantin pria dan
wanita boleh mengenakan pakaian keluarga kerajaan yang disebut ‘basahan’.
Dahulu hanya keluarga kerajaan yang boleh memakai pakaian tersebut. Meski
dengan modernisasi yang dialami Yogyakarta namun Keraton Yogyakarta tetap
dihormati masyarakatnya. Bahkan hingga kini sultan masih dianggap sebagai
kepala budaya di Yogyakarta dan sangat dicintai oleh rakyatnya.