Minggu, 09 Oktober 2011

MAKALAH “ Gerakan Kebangkitan Dan Pembaharuan Islam di Turki “

KATA PENGANTAR

Puji sukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas ini.
Makalah ini di menyajikan rangkuman materi tentang “ GERAKAN KEBANGKITAN DAN PEMBARUAN ISLAM DI TURKI “ yang telah selesai di kerjakan oleh kami.
Kami tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada orang-oarang yang ikut membantu terutama orang tua dalam segi materi dan pada guru kimia yang telah membimbing kami.
Dan juga kami mohon ma’af sebesar-besarnya karena sebaik-baiknya kami mengerjakan makalah ini pasti ada kesalahan tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin.
Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfa’at bagi orang yang membaca khususnya kami yang mwmbuatnya. Amin.

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR      ……………………………………………..     i
DAFTAR ISI  …………………………………………………………    ii

BAB I PENDAHULUAN
A.     Latar belakang     …………………………………………………….       1
B.     Pokok Pikiran   ………………………………………………………       1
C.     Pembahasan Masalah       ………………………………….…………       1

BAB II  PEMBAHARUAN ISLAM DI TURKI
A.     Pengertian Pembaruan Islam            …………………………………..       2
B.     Sejarah Pembaharuan Islam di Turki         …………………………….       3
1.      Sekilas Tentang Sejarah Turki         ………………………...     3
2.      Pembaharuan Islam Di Turki        …………………………...    4
C.     Tokoh Pembaharuan Turki dan Pemikirannya          …………………..        7
1.      Sultan Salim III      …………………………………………     8
2.      Sultan Mahmud II     ………………………………………..    8
3.      Tanzimat        ……………………………………………..       8  
4.      Usmani Muda       ………………………………………...      10
5.      Mustafa Kemal Ataturk      ………………………………..      12
D.     Faktor-Faktor Pendorong Pembaharuan Islam       ……………………       18

BAB III PENUTUP                                                                                       
A.     Kesimpulan       ………………………………………………………       19
B.     Saran    ………………………………………………………………       20

DAFTAR PUSTAKA     …………………………………………….       21



BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Pembabakan Sejarah Peradaban Islam dibagi dalam tiga Jaman. Jaman kelahiran Islam di masa Nabi Muhammad saw; Jaman perluasan ajaran Islam hingga ke luar Jazirah Arab dimasa Khulafa ar-Rasyidin dan khalifah sesudahnya; jaman Kejayaan pada masa Khilafah Abbasiyah dan Fatimiyah; Jaman kemunduran hingga dihapuskannya institusi Khilafah Islamiyah di Turki pada awal abad ke-20 M.
Berbicara tentang penghapusan institusi kekhilafahan Islam, maka kita akan bertemu dengan sebuah nama yang tidak asing lagi yaitu Mustafa Kamal Attaturk. Ketika kita belajar mata pelajaran Sejarah, dulu, Kamal Attaturk ini dikenal sebagai orang yang sangat berjasa dalam merubah wajah Turki dari Islam menjadi sekuler (modern).

B.     Pokok Pikiran
1.      Latar Belakang gerakan Pembaruan Islam Di Turki
2.      Pengertian gerakan Pembaruan Islam
3.      Sejarah perkembangan gerakan Islam Di Turki
4.      Tokoh-tokoh gerakan Penbaruan Islam Di Turki

C.     Pembahasan
Pembaharuan yang terjadi di Turki terdapat tiga aliran: aliran Barat, aliran Islam dan aliran nasonalis. Menurut tokoh yang beraliran Barat, Turki mundur karena bodoh yang disebabkan syariah yang menguasai seluruh kehidupan bangsa Turki, solusinya Barat harus dijadikan guru, tokohnya Tewfik Fikret. Kedua menurut Aliran Agama, Syariat Islam tidak menjadi penghalang kemajuan. Turki mundur karena tidak menjalankan syariat Islam, sehingga Syariat Islam harus dijalankan di Turki, tokohnya Mehmed Akif. Ketiga aliran nasionalis berpendapat kemunduran Turki disebabkan karena Umat Islam  yang enggan mengakomodir perubahan-perubahan, tokhnya Zia Gokalp.
BAB II
PEMBAHARUAN ISLAM DI TURKI

A.     Pengertian Pembaruan Islam
1.      Harun Nasution cendrung menganalogikan istilah “pembaharuan” dengan “modernisme”, karena istilah terakhir ini dalam masyarakat Barat mengandung arti pikiran, aliran, gerakan, dan usaha mengubah paham-paham, adt-istiadat, institusi lama, dan sebagainya unutk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Gagasan ini muncul di Barat dengan tujuan menyesuaikan ajaran-ajaran yang terdapat dalam agama Katolik dan Protestan dengan ilmu pengetahuna modern.
Karena konotasi dan perkembangan yang seperti itu, harun Nasution keberatan menggunakan istilah modernisasi Islam dalam pengertian di atas ( Azra, Azyumardi : 1996 )
2.      Revivalisasi
Menurut paham ini, “pembaharuan adalah “membangkitkan” kembali Islam yang “murni” sebagaimana pernah dipraktekkan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan kaum Salaf ( Azra, Azyumardi : 1996 )
3.      Kebangkitan Kembali ( Resugence )
Dalam kamus Oxford, resurgence didefinisikan sebagai “kegiatan yang muncul kembali” (the act of rising again ). Pengertian ini memnagandung 3 hal :
a.       suatu pandangan dari dalam, suatu cara dalam mana kaum muslimim melihat bertambahnya dampak agama diantara para penganutnya. Islam menjadi penting kembali. Dalam artian, memperoleh kembali prestise dankehormatan dirinya.
b.      .“kebangkitan kembali” menunjukkan bahwa keadaaan tersebut telah terjadi sebelumnya. Jejak hidup nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam dan para pengikutnya memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran orang-orang yang menaruh perhatian pada jalan hidup Islam saat ini.
c.       Kebangkitan kembali sebagai suatu konsep, mengandung paham tentang suatu tantangan, bahkan suatu ancaman terhadap pengikut pandangan-pandangan lain ( Muzaffar, Chandra : 1988 )

B.     Sejarah Pembaharuan Islam di Turki
1.      Sekilas Tentang Sejarah Turki
Negara Turki lahir dari reruntuhan kesultanan Usmaniyah pasca perang dunia I yang terletak di Asia kecil (Anatolia) yang didirikan oleh Mustofa Kemal Attaturk. Turki merupakan negara sekuler pertama di dunia Islam. Negara yang berdekatan dengan benua eropa ini memproklamirkan diri sebagai negara republik pada tahun 1923.6
Menurut data tahun 1992 Negara Turki berpenduduk 58.436.000.7 98 % diantaranya merupakan muslim yang mayoritas bermazhab sunni. Penduduk Turki banyak yang secara sadar tidak menjalankan syariát Islam sebagai akibat kebijakan sekularisasi yang diterapkan.
Gerakan tanzimat9 yang dikumandangkan oleh Turki Muda meupakan awal pembaruan Turki di bidang militer, ekonomi, sosial, keagamaan. Gerakan tanzimat didasari oleh pemikiran barat dan meninggalkan pola dasar syariát Islam. Penyingkiran Islam oleh pemerintah Turki salah satunya tercermin dari penghapusan kalimat “agama Negara Turki adalah Islam” yang semula terdapat pada pasal 2 konstitusi negara. Pemerintah Turki juga membentuk komite untuk mengkaji pembaruan Islam.
Tujuan komite  tersebut lebih bersifat politis yaitu memisahkan seluruh lembaga sosial, pendidikan dari yurisdiksi para pemimpin agama beserta sekutu-sekutu politik mereka, serta meletakkannya ke dalam yurisdiksi direktorat urusan agama.
Rezim yang berkuasa menjadi lebih sekuler ketika Islam “dinasionalisasi” pada bulan Januari 1932; al-Qurán dibaca dalam bahasa Turki, Setahun kemudian muncul kebijakan tentang azan yang berbahsa Turki. Walaupun begitu Islam tetap digalang demi tujuan-tujuan kewarganegaraan, seperti seruan agar masjid-masjid terus menyebarkan propaganda untuk mendukung perekonomian nasional.
Penerjemahan al-Qurán dalam bahasa Turki yang dilakukan oleh Pemerintahan Mustofa Kemal Attaturk dilakukan tanpa menyertakan teks aslinya (bahasa Arabnya). Walaupun begitu teks Arabnya masih tetap dipakai dalam shalat. Dalam perkembangannya ada kecenderungan orang-orang Turki kembali pada teks Arab dalam membaca al-Qurán. Sedangkan penerjemahan al-Qurán ke dalam bahasa setempat dilakukan untuk lebih memahami teks al-Qurán.

2.      Pembaharuan Islam Di Turki
Kekalahan militer Turki Usmani di Lepanto ( 1571M), dan kegagalan dalam menaklukan Wina (1683M) merupakan tanda pergeseran kekuatan. Militer Kristen Eropa lebih kuat dibandingkan dengan Militer Turki Usmani. Solusi yang ditempuhnya adalah   harus mengadopsi kemajuan-kemajuan yang telah dicapai Eropa. Adopsi kemajuan tersebut melahirkan gerakan pembaharun di Turki.
Turki adalah bekas jantung tempat salah satu kekhalifahan terbesar Islam, yakni Turki Usmani. Oleh karena itu keterikatan  bangsa Turki dengan Islam berlangsung  sangat kuat sebab mereka bangsa terkemuka di dunia Islam selama beratus-ratus tahun lamanya. Ini merupakan suatu indikasi tentang betapa pentingnya Islam dalam kehidupan nasional rakyat Turki. Secara politis setiap orang yang bertempat tingal di Turki, tetapi secara kebudayaan orang Turki adalah hanya orang Islam.
Langkah-langkah pembaharuan yang dilakukan adalah, pertama  mengirim para pelajar ke luar negeri, kedua pengiriman duta besar ke Eropa, ketiga mendatangkan guru dari Eropa,mendirikan selokah teknik militer, Pembentukkan badan penerjemah,menulis beberapa buku matematiaka, geografi, kedokteran, sejarah dan agama, pendirian penerbitan dan percetakan.
Bangsa Turki adalah orang-orang dan bermartabat dengan suatu persepsi mengenai mereka sendiri sebagai masyarakat terhormat dan unggul. Dengan demikian Turki sebuah identitas kebangsaan yang membanggakan warganya. Contoh paling ekspresif mengenai hal ini ditinjukkan oleh Ziya Gokalp ( 1876-1924) dalam salah satu pernyataannya “ I am Turk, my religion and may race are noble” dan ungkapan yang lebih fanatik dan angkuh dikatakan Mustafa Kemal menyatakan “ Saya adalah Turki, merongrong saya sama dengan menghancurkan Turki”.
Pembaharuan yang terjadi di Turki terdapat tiga aliran: aliran Barat, aliran Islam dan aliran nasonalis. Menurut tokoh yang beraliran Barat, Turki mundur karena bodoh yang disebabkan syariah yang menguasai seluruh kehidupan bangsa Turki, solusinya Barat harus dijadikan guru, tokohnya Tewfik Fikret. Kedua menurut Aliran Agama, Syariat Islam tidak menjadi penghalang kemajuan. Turki mundur karena tidak menjalankan syariat Islam, sehingga Syariat Islam harus dijalankan di Turki, tokohnya Mehmed Akif. Ketiga aliran nasionalis berpendapat kemunduran Turki disebabkan karena Umat Islam  yang enggan mengakomodir perubahan-perubahan, tokhnya Zia Gokalp.
Begitu juga dalam Pembaharuan Pendidikan Islam dengan memperhatikan berbagai macam sebab kelemahan dan kemunduran umat Islam sebagaimana nampak pada masa sebelumnya, dan dengan memperhatikan sebab-sebab kemajuan dan kekuatan yang dialami oleh Bangsa Eropa, maka pada garis besarnya terjadi tiga pola pemikiran pembaharuan pendidikan Islam. Ketiga pola tersebut adalah :


a.       Pola pembaharuan pendidikan Islam yang berorientasi pada pendidikan modern di Barat.
Mereka berpandangan, pada dasarnya kekuatan dan kesejahteraan yang dialami Barat adalah hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang mereka capai. Golongan ini berpendapat bahwa apa yang dicapai oleh Barat sekarang ini merupakan pengembangan dari ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang pernah berkembang di dunia Islam.
Maka untuk mengembalikan kekuatan dan kejayaan umat Islam, sumber kekuatan itu harus dikuasai kembali. Cara pengembalian itu tidak lain adalah melalui pendidikan, karena pola pendidikan Barat dipandang sukses dan efektif, maka harus meniru pola Barat yang sukses itu. Pembaharuan pendidikan dengan pola Barat, mulai timbul di Turki Utsmani akhir abad ke 11 H / 17 M setelah mengalami kalah perang dengan berbagai negara Eropa Timur pada masa itu.
Pada dasarnya, mereka (golongan ini) berpandangan bahwa pola pendidikan Islam harus meniru pola Barat dan yang dikembangkan oleh Barat, sehingga pendidikan Islam bisa setara dengan pendidikan mereka. Mereka berpandangan bahwa usaha pembaharuan pendidikan Islam adalah dengan jalan mendirikan lembaga pendidikan / sekolah dengan pola pendidikan Barat, baik sistem maupun isi pendidikannya. Jadi intinya, Islam harus meniru Barat agar bisa maju.

b.      Golongan yang berorientasi pada sumber Islam yang murni.
Mereka berpendapat bahwa sesungguhnya Islam itu sendiri merupakan sumber dari kemajuan dan perkembangan peradaban Ilmu Pengetahuan modern. Dalam hal ini Islam telah membuktikannya. Sebab-sebab kelemahan umat Islam meurut mereka adalah karena tidak lagi melaksanakan ajaran Agama Islam sebagaimana mestinya. Ajaran Islam yang sudah tidak murni lagi digunakan untuk sumber kemajuan dan kekuatan. Pola ini dilakukan oleh Muhammad bin Abdul Wahab, Jamaluddin Al-Afghani, dan Muhammad Abduh.
c.       Usaha yang berorientasi kepada Nasionalisme.
Golongan ini melihat di Barat rasa Nasionalisme ini timbul bersamaan dengan berkembangnya pola kehidupan modern sehingga mengalami kemajuan yang menimbulkan kekuatan politik yang berdiri sendiri. Keadaan ini pada umumnya mendorong Bangsa timur dan bangsa terjajah lainnya untuk mengembangkan nasionalisme mereka masing-masing. Yang mendorong berkembangnya nasionalisme adalah karena kenyataannya mereka terdiri dari berbagai bangsa dengan latar belakang dan sejarah perkembangan kebudayaan yang berbeda satu sama lain.
Golongan ini berusaha memperbaiki kehidupan umat Islam dengan memperhatikan situasi dan kondisi objektif umat Islam yang bersangkutan. Dalam usaha mereka bukan semata mengambil unsur-unsur budaya Barat yang sudah maju, tetapi juga mengambil unsur dari budaya warisan bangsa yang bersangkutan. Ide kebangsaan inilah yang akhirnya menimbulkan timbulnya usaha merebut kemerdekaan dan mendirikan pemerintahan sendiri dikalangan pemeluk Islam. Sebagai akibat dari pembaharuan dan kebangkitan kembali pendidikan ini terdapat kecendrungan dualisme sistem pendidikan kebanyakan negara tersebut, yaitu sistem pendidikan modern dan sistem pendidikan tradisional.

C.     Tokoh Pembaharuan Turki dan Pemikirannya
Diantara beberapa tokoh pembaharuan di Turki adalah Sultan Salim III, Sultan Mahmud II, Tanzimat, Kelompok Usmani Muda, Turki muda, dan Mustafa Kemal. Sebelum Sultan Mahmud II gerakan pembaharuan sudah dimulai akan tetapi belum banyak perubahan yang terjadi, seperti pada tahun 1644-1702 Husen Koprulu dan Damad Ibrahim (1719-1730 M) keduanya menjadi Wajir Agung mengadakan pembaharuan akan tetapi mendapat tantangan dari Feyzullah sebagai syaikh al-Islam yang menyebabkan konflik internal dan berhasil wajir tersebut.
1.      Sultan Salim III
Pembaharuan yang dilakukan oleh Sultan Salim III ( 1789-1807) dengan melakukan langkah-langkah pembaharuan sebagi berikut: restrukturisasi pemerintahan yang efektif dan efisien, rekriutmen pegawai secara profesional, pendirian sekolah dan balai latihan, menghilangkan hak istimewa  militer jeniseri yang mewajibkan mereka harus melalui seleksi profesionalisme.
Pembaharuan yang dilakukan Sultan Salim III ini mendapat tantangan dari militer Jeniseri yang mendapat sokongan fatwa bahwa gerakan pembaharuan Sultan Salim III bertentangan dengan agama dan tradisi sehingga dapat dikalahkan.

2.      Sultan Mahmud II
Kegagalan Sultan Sanlim III tidak menyulutkan penggantinya  Sultan Mahmud II untuk mengadalan pembaharuan. Pada tahun 1826 Sultan Mahmud II membentuk korp tentara baru di luar Jeniseri dan menggunakan instruktur dari Mesir  tidak berasal dari Eropa agar tidak direspon negatif oleh ulama dan segera membubarkan 
Jeniseri serta melarang Tarekat Bektasy, mengadakan penghapusan wajir agung diganti dengan perdana menteri, wajir agung pada saat itu dipegang oleh syaikh al-Islam, pembaharuan sistem hukum yang memberlakukan hukum sekuler di samping hukum syari’ah, peradilan syariah diserahkan kepada syaikh al-Islam sedangkan peradilan sekuler diserahkan kepada Majlich-I Ahkam-I Adliye, dan pembaharuan di bidang pendidikan dengan membentuk sekolah umum ( Mekteb-I Ma’arif) dan sekolah sastra ( mekteb-i ‘Ulum-u Edebiye).

3.      Tanzimat
Sepeninggal Sultan Mahmud II, gerakan pembaharuan dilakukan oleh Abdul Majid (1839-1861) dengan perdana menteri Rasyid Pasya. Periode ini disebut masa Tanzimat  yang mengandung arti peraturan dan perundang-undangan baru. Tokoh-tokoh Tanzimat antara lain: Rasyid Pasya, Mehmed Sadik Rifat Pasya, dan Muhammad Ali Pasya dan Fuad Pasya.
Diantara beberapa peraturan perundang-undangan yang dihasilkan pada masa tanzimat antara lain:
a)      Piagam Hatt-I Sherif Gulhane tahun 1839 sebagai dasar pembaharuan di bidang administrasi, perpajakan, hukum, pendidikan, kau minoritas dan militer yang menyebabkan perang di Crimea akibat penolakan kaum ulama akibat dari  reduksi  peran ulama.
b)      Piagam Hatt-I Humayun ( 1856 M) yang mengakomodir hak-hak minoritas. Piagam ini mendapat reaksi keras dari ulama dan kelompok penduduk yang berpendidikan Barat yang tergabung dalam Usmani Muda.
Harun Nasution lebih rinci dalam menjelaskan kandungan dalam piagam  Hatt-I Sherif Gulhan sebagai berikut: kemakmuran suatu negara bergantung kepada kemakmuran rakyat yang diperoleh dengan cara menghilangkan pemerintahan absolut selama ini, menghilangan kesewenang-wenangan, peraturan mengenai kewajiban dan lamanya dinas militer, hukuman mati dengan diracun tidak dibolehkan lagi,hak milik terhadap harta dijamin dan tiap orang mempunyai kebebasan terhadap harta yang dimilikinya, semua pegawai kerajaan menerima gaji sesuai dengan beban tugasnya untuk mengurangi korupsi, mengajak rakyat memberikan pendapat tentang soal-soal negara dan administrasi, mendirikan Bank  Usmani dan mengganti  peredaran uang dengan memakai sistem desimal, dan pendidikan umum dilepaskan dari kekuasaan kaum ulama untuk diserahkan kepada kementerian Pendidikan yang dibentuk pada tahun 1847.
Sedangkan piagam Hatt-I Humayun yang mengakomodir hak-hak minoritas seperti penghapusan perbedaan agama, bahasa dan bangsa, rakyat non muslim diperbolehkan masuk dinas militer,  dan penghapusan perbedaan pajak yang bagi rakyat non muslim, penghapusan hukum bunuh terhadap orang yang murtad dari Islam  dan pemasukan anggota-anggota bukan Islam ke dalam dewan hukum. Setelah piagam Hatt-I Humayun ini, maka diadakan penyempurnaan hukum pidana, hukum dagang dan hukum maritim dengan menggunakan hukum Prancis, didirikan Mahkamah Agung, serta dalam bidang pendidikan didirikan Sekolah Galatasaray tahun 1868 yang siswanya Islam dan non   dapat duduk berdampingan. Padahal sebelumnya masing-masing  golongan agama mempunyai sekolah tersendiri.
Kedua piagam yang dihasilkan kelompok Tanzimat ini mendapat kritikan keras terutama dari kalangan Intelegensia Turki Usmani. Piagam ini mengandung sekularasisasi dalam berbagai institusi kemasyarkatan seperti lembaga hukum baru yang dipengaruhi sistem hukum Barat, menimbulkan pro-Barat yang mengakibatkan campur tangan negara-negara Barat dalam soal inter   kerajaan Usmani yang pada akhirnya  jatuhnya perekonomian negara ini, serta menyebabkan semakin absolutnya kekuasaan sultan dan menteri-menterinya karena tidak adanya oposisi dari Yeniseri sebagai yang sudah dibubarkan pada masa Sultan Mahmud II. Pasukan Yeniseri ini ditakuti bukan hanya karena memiliki senjata akan tetapi karena memiliki dukungan kuat dan erat dari Tarekat Bektasyi yang mempunyai pengikut yang besar di kalangan masyarakat.

4.      Usmani Muda
Kematian Perdana Menteri Ali Pasya ( 1871 M)  menandai berakhirnya Tanzimat, gerakan pembaharuan diganti oleh kelompok Usmani Muda yang berhasil menurunkan secara paksa Sultan Abdul Aziz pada tahun 1876 melalui fatwa Syaikh al-Islam dan diganti oleh Murad V yang mendapat dukungan Usmani Muda. Akan tetapi karena Murad V dianggap tidak berhasil memimpin Turki Usmani dan dianggap sakit mental oleh Syaikh al-Islam di kemudian hari, maka diganti oleh S sultan Abdul Hamid ( 31 Agustus 1876) dan perdana menterinya Mihdat Pasya salah seorang tokoh Usmani Muda.
Usmani Muda dalam pembaharuannya terbagi kepada 2 partai ditinjau dari segi liberalisnya. Usmani Muda pertama liberal yang menghendaki sistem pemerintahan otonomi bagi daerah-daerah ( desentralisasi), kedua Usmani muda yang tergabung dalam partai Ittihadi ve Terekki, pemenang pemilu 1908 yang ingin mempertahankan sistem pemerintahan sentralistik. Dan pada tahun 1912 M, partai tersebut juga tampil sebagai pemenang  yang melibatkan diri Turki Usmani dalam perang Balkan bersama Jerman dengan harapan menjadi media untuk merebut kembali daerah-daerah yang sudah memerdekakan diri sebelumnya dalam sistem pemerintahan federasi. Diantara negara yang sudah memerdekakan diri dari Turki Usmani Bulggaria,Austria, Yunani, Bosnia dan Herzegivina.
Pada perang Dunia I. Turki Usmani bersekutu dengan Jerman sebagai keputusan yang dilakukan Syaik al-Islam pada tanggal 23 Nopember 1914 dengan mengumumkan perang suci agar mendapat dukungan umat Islam secara luas. Akan tetapi yang terjadi malah umat Islam menjadi terkotak-kotak, seperti bangsa Tartar bersatu dengan Rusia, Al Jazair dan senegal bergabung dengan Prancis, Umat Islam India dan Arab Saudi bergabung dengan Inggris. Dampak selanjutnya Arab Saudi menyatakan merdeka dari Turki, begitu juga Syiria dan Transyordan bangkit melawan Turki, serta terjadi pembelotan yang dilakukan tentara yang berasal dari suku Arab.
Usmani Muda merupakan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1865 dengan tujuan untuk mengubah pemerintahan absolut menjadi pemerintahan yang konstitusional. Tokoh Usmani muda antara lain Mihdat Pasya, Ziya Pasya, dan Nanik Kemal. Diantara isi ide-ide pembaharunnya sebagai berikut:
a)      Ekonomi dan politik yang tidak beres dapat diatasi dengan merubah  sistem pemerintahan absolut menjadi pemerintahan konstitusional yang memisahkan kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Rakyat sebagai warga negara mempunyai hak politik . Pemerintahan demokrasi tidak bertentangan dengan ajaran Islam, karena dalam Islam dikenal sistem bai’ah yang pada hakikatnya merupakan kedaulatan rakyat. Khalifah sebagai eksekutif  tidak boleh mengambil sikap atau tindakan yang berlawanan dengan maslahat umum ( al-maslahah al-‘ammah),  dan tidak melanggar syari’ah, kaum ulama sebagai pembuat hukum, dan pemerintah yang melaksanakan hukum. Sehingga sistem pemerintahan konstitusional tidak merupakan bid’ah dalam Islam. Hal ini merupakan ide baru pada saat itu yang memegang sistem otokrasi.
b)      Tumbuh ide tanah air Usmani bukan tanah air Turki dengan melihat perlu adanya persatuan umat Islam di bawah pimpinan Turki Usmani yang mirif  Pan-Islamisme.

5.      Mustafa Kemal Ataturk
Mustafa Kemal lahir pada 1881 di suatu daerah di Salonika. Sering dikenal dengan nama Mustafa Kemal Pasya. Dan dikenal juga dengan Mustafa Kemal Attaturk (Bapak Bangsa Turki). Beliau juga mendapat julukan Ghazi, artinya sang pembela keyakinan. Julukan ini diberikan ketika beliau dengan gemilang membawa Turki kepada kemenangan dalam perang kemerdekaan melawan Yunani, Mustafa Kemal dielu-elukan dan dipanggil dengan gelar kehormatan Ghazi. Ayahnya bernama Ali Riza, seorang juru tulis rendahan di salah satu kantor pemerintahan di kota itu. Beliau sempat mencoba lari dari kemalangan hidupnya dengan cara menegak racun. Sedangkan Ibunya bernama Zubayde, seorang wanita sholihah. Ali Riza meninggal saat Mustafa Kemal berusia tujuh tahun sehingga ia kemudian diasuh oleh ibunya.
Sejak kecil, Mustafa Kemal memiliki bakat untuk selalu memberontak terhadap segala keadaan yang tidak berkenan di hatinya. Ia secara brutal menentang peraturan apapun. Bahkan, tanpa malu-malu ia sering memaki-maki gurunya saat bersekolah. Sehingga suatu hari pernah ditampar salah satu gurunya karena sang guru sudah kehilangan kesabaran menghadapi perilaku Mustafa Kemal. Dan akibatnya, Mustafa Kemal kecil lari dan tidak mau masuk sekolah lagi.
Mustafa kecil juga terkenal arogan dalam bergaul. Ia tidak mau sembarangan dalam memilih kawan. Akhirnya, ibunya mengirim dia ke sekolah militer, sehingga riwayat pendidikan Mustafa Kemal dimulai tahun 1893 ketika ia memasuki sekolah Rushdiye (Sekolah Menengah Militer Turki). Tahun 1895 ia masuk ke akademi militer di Kota Monastir dan pada tanggal 13 maret 1899 ia masuk ke sekolah ilmu militer di Istambul. Tahun 1902 ia ditunjuk sebagai salah satu staf pengajar dan pada bulan Januari 1905 ia lulus dengan pangkat Kapten. Perjuangan Mustafa Kemal mewujudkan pembaharuan untuk kemajuan Turki penuh liku, dan mencapai klimaksnya ketika ia menjadi Presiden Republik Turki. Bangsa Eropa mengakui Republik Turki yang ditandai oleh Perjanjian Lausanne pada tahun 1923. Mustafa Kemal meninggal dunia tahun 1938.
Setelah perang dunia I, Mustafa kemal diangkat menjadi panglima militer di Turki Selatan untuk merebut Izmir dari tentara sekutu dan berhasil memukul mundur tentara sekutu dan menyelamatkan Turki dari penjajahan  Barat. Pada saat itu Sultan  di Istanbul berada di bawah kekuasaan sekutu yang harus menyesuaikan diri dengan mereka, Kemudian ia mendirikan pemerintahan tandingan di Anatolia dengan mengatakan kemerdekaan negara dalam keadaan bahaya, rakyat Turki harus berusaha sendiri membebaskan tanah air dari kekuatan asing, sultan tidak menjalankan pemerintahan dan segera mengadakan kongres.
Kemudian ia  mendeklarasikan diri sebagai berikut:
a)      Kemerdekaan tanah air dalam keadaan bahaya
b)      Sultan tidak dapat menjalankan pemerintahan karena berada di bawah kekuasaan sekutu.
c)      Rakyat Turki harus berusaha sendiri untuk membebaskan tanah air dari kekuasaan asing.
d)      Gerakan pembela tanah air harus dikoordinir oleh panitia nasional.
e)      Untuk merealisasikan hal-hal tersebut, perlu diadakan kongres.
Dengan pernyataan tersebut Mustafa kemal  dipecat dari jabatan panglima oleh Sultan. Kemudian ia berkiprah di dunia politik menjadi ketua perwakiolan rakyat yang menganamanatkan Turki harus merdeka dari kungkungan asing, dan pada tahun 1920 terpilih menjadi ketua Majlis Nasional Agung ( MNA) di Ankara.
Mustafa Kemal memproklamirkan Republik Turki pada 29 Oktober 1923 dengan membentuk negara  modern didasarkan kepada kekecewaan yang amat mendalam terhadap sistem kekhalifahan sebelumnya yang dianggap gila dan dibangun atas sendi-sendi keagamaan yang rapuh.Peraturan dan pengadilan agama kuno segera digantikan dengan hukum perdata yang modern dan ilmiah, begitu juga sokolah agama harus diserahkan kepada pemerintah sekuler.
Arnold Toynbee dalam  Mainkid and Mother Earth ( terjemah Sejarah Umat Manusia ), menyebutkan  Ataturk memimpin rakyat Turki bukan hanya untuk  memenangkan perang demi mempertahankan kelangsungan hidup mereka, tetapi juga untuk melakukan westernisasi yang revolusioner guna melanjutkan apa  yang telah dirintis oleh Mahmud II. Lebih Jauh Arnold membandingkan Ataturk seperti Lenin di Rusia sebagai intelezensia yang menumbangkan rezim yang membentuk kelas ini di negaranya, terutama dalam menggunakan kekerasan untuk menuntaskan pekerjaan penting ini.
Salah satu bukti penghapusan kekhalifahan ,menghapus kementerian syariah dan waqaf dan menyatukan sistem pendidikan di bawah kementerian pendidikan lahirnya Undang-undang yang disetuhui Dewan Nasional Agung Turki pada tanggal 3 Maret 1924.
Tujuan akhir Mustafa Kemal dengan reformasi berupa westernisasi adalah membawa Turki berbaris bersama dengan peradaban Barat, bahkan berusaha mencuri satu langkah mendahului perdaban Barat. Mustafa  Kemal dikenal sebagai Bapak Rakyat Turki dengan julukan Ataturk, dan ia juga mendapat julukan Ghazi. Rangkaian kebijakan pembaharuan Mustafa Kemal berperinci kepada:, nasionalisme, sekularisme, westernisme :
Pertama,unsur Nasionalisme. Ide Nasionalisme dalam pemikiran Mustafa Kemal ialah nasionalisme Turki yang terbatas daerah geografisnya dan bukan ide nasionalisme yang luas, yakni diilhami oleh Ziya Gokalp (1875-1924) yang menyerukan reformasi Islam untuk menjadikan Islam sebagai ekspresi dari etos Turki. Dalam pemahaman Mustafa Kemal, Islam yang berkembang di Turki adalah Islam yang telah disatukan dengan budaya Turki, sehingga ia berkeyakinan bahwa Islam dapat diselaraskan dengan dunia modern. Namun turut campurnya Islam dalam segala aspek kehidupan pada bangsa dan agama akan menghambat Turki untuk maju.
Atas dasar itu, Mustafa Kemal berpendapat bahwa agama harus dipisahkan dari negara. Islam tidak perlu menghalangi Turki mengadopsi peradaban barat sepenuhnya, termasuk merubah bentuk negara. Pada permulaan di dirikannya Republik Turki, Mustafa Kemal berpendapat bahwa pemerintah nasional harus didasarkan pada prinsip pokok populisme (kerakyatan). Ini berarti, kedaulatan dan semua kekuatan administrasi harus langsung diberikan kepada rakyat. Konsekuensi logis dari prinsip tersebut adalah dihapusnya sistem kekhalifahan.
Kedua Sekulerisme, sekulerisasi yang dijalankan oleh Mustafa Kemal tidak serta merta menghilangkan agama dari rakyat Turki, namun hanya melakukan pembatasan kekuasaan golongan ulama dalam soal negara dan politik. Oleh karena itu, pembentukan partai yang berdasarkan agama dilarang, institusi-institusi negara, sosial, ekonomi, hukum, politik, dan pendidikan harus dibebaskan dari kekuasaan syari’ah. Menurut Mustafa Kemal, sekulerisme bukan saja memisahkan masalah bernegara (legislatif, eksekutif, dan yudikatif) dari pengaruh agama melainkan juga membatasi peranan agama dalam kehidupan orang Turki sebagai suatu bangsa, karena menurut beliau bahwa indikasi ketinggian suatu peradaban terletak pada keseluruhannya, bukan secara parsial. Peradaban Barat dapat mengalahkan peradaban-peradaban lain bukan hanya karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologinya, tetapi karena keseluruhan unsurnya. Dan sekulerisasilah yang menimbulkan peradaban yang tinggi itu. Sehingga, Mustafa Kemal berpendapat jika rakyat Turki ingin mempunyai peradaban tinggi harus melakukan sekulerisasi.
Ketiga, Westernisme, dalam hal ini Mustafa Kemal berpendapat bahwa Turki harus berorientasi ke Barat. Ia melihat bahwa dengan meniru barat Negara Turki akan maju. Ungkapan yang digunakan oleh Mustafa Kemal, “Kita (bangsa Turki) harus bergerak bersama zaman.” Oleh karena itu, satu-satunya jalan untuk memajukan rakyat Turki adalah dengan melakukan reformasi berupa modernisasi yakni suatu upaya untuk mengubah wajah Turki secara total dengan menerapkan nilai-nilai modern yang progresif dan meninggalkan segala hal yang dipandang kaku, kolot, tradisional dan berbau Utsmaniyah. Kemal berkeyakinan hanya dengan jalan itu rakyat Turki akan makmur dan dihormati oleh bangsa-bangsa lain.
Secara bertahap namun pasti, Mustafa Kemal melakukan pembaharuan/ reformasi. Kebijakan-kebijakan Mustafa Kemal diantaranya:
a)      Undang-undang tentang unifikasi dan sekulerisasi  pendidikan tanggal 3 maret 1924
b)      Undang-Undang tentang kopiah tanggal 25 November 1925
c)      Undang-undang tentang pemberhentian petugas jamaah dan makam, penghapusan lembaga pemakaman tanggal 30 November 1925.
d)      Perturan sipil tentang perkawinan tanggal 17 Februari 1926.
e)      Undang-undang penggunaan huruf latin untuk bajad Turki dan penghapusan tulisan Arab tanggal 1 November 1928.
f)        Undang-undang tentang larangan penggunaan pakaian asli tanggal 13 Desember 1934.

Gerakan modernisasi dan westernisasi di Turki yang dilakukan Mustafa Kemal menurut Komarudin Hidayat pada dasarnya bukanlah anti Islam, akan tetapi mengadakan rasionalisasi agama agar agama menjadi kekuatan penopang bagi kemajuan Turki. Pembaharuan yang dilakukan Kemal adalah:
a)      Pemisahan antara pemerintahan dengan agama yang diterima Majelis Nasional Agung tahun 1920.
b)      Kedaulatan Turki tidak berada di tangan sultan tetapi di tangan rakyat.
c)      Jabatan khalifah dipertahankan, tetapi hanya memiliki kewenangan spiritual.
d)      Khalifah Wahid al-Din dipecat dari jabatan karena bersekutu dengan Inggris dan digantikan oleh Abdul Majid.
e)      Merubah bentuk negara dari khilafah menjadi republik dan Islam menjadi agama negara.
f)        Karena khalifah mengadakan pembangkangan dan melahirkan dualisme kepemimpinan, 3 Maret 1924 khalifah dihapus.
g)      Turki mendeklarasikan sebagai negara sekuler dengan menghapus Islam sebagai agama negara tahun 1937.
Sungguhpun demikian, kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh Mustafa Kemal yang bisa dikatakan sangat radikal tersebut telah mengundang sejumlah reaksi. Reaksi yang paling keras ditunjukkan oleh kalangan Islam konservatif. Gerakan sekulerisasi Turki oleh Mustafa Kemal berakhir seiring dengan meninggalnya beliau. Proses sekulerisasi sempat dilanjutkan oleh Ismet Inonu, seorang Presiden pengganti Mustafa Kemal.
Sungguhpun demikian, rakyat Turki tetaplah rakyat Turki, yang tidak bisa menggoyahkan akar Islam yang sudah terpatri dalam hati mereka. Memang secara politis, Negara Turki mempunyai pandangan bahwa mereka adalah bagian yang tak terpisahkan dari peradaban barat, tapi secara kultural, mereka tetap mempertahankan jati diri mereka yang tak bisa terlepas dari Islam.
Walaupun Turki dinyatakan sebagai negara sekuler, Islam tetap berakar kuat di hati masyarakat Turki. Ini terbukti para petani yang hidup di pedesaan yang merupakan tiga perempat dari seluruh penduduk Turki tetap merupakan orang-orang muslim yang shaleh. Pengaruh Islam juga masih terlihat pada kaum buruh dan pedagang-pedagang kecil. Hal ini membuktikan bahwa sekulerisasi tidak tumbuh subur di masyarakat Turki yang punya akar keIslaman yang kuat.


D.    Faktor-Faktor Pendorong Pembaharuan Islam
1.      Kepercayaan terhadap Barat secara keseluruhan yang dialami oleh generasi baru muslim.
2.      Gagalnya system social yang bertumpu pada kapitalisme dan sosialisme
3.      Gaya hidup elit sekuler di negara-negara Islam
4.      Hasrat untuk memperoleh kekuasaan diantara segmen kelas menengah yang semakin berkembang yang tidak dapat diakomodasi secara politik.
5.      pencarian keamanan psikologis diantara kaum pendatang baru di daerah perkotaan.
6.      Lingkungan kota
7.      Ketahanan ekonomi negara-negara Islam tertentu akibat melonjaknya harga minyak.
8.      Rasa percaya diri akan masa depan akibat kemenangan Mesir atas Israel tahun 1973, Revolusi Iran 1979, dan fajar kemunculan kembali peradaban Islam abad ke 15 Hijriah ( Mazaffar, Chandra ;1988 )






BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Pembaharuan dalam Islam merupakan suatu keharusan yang terjadi dalam siklus kehidupan dengan tujuan memperbaiki segala persoalan sosial keagamaan yang sangat dibutuhkan masyarakat pada saat itu sebagai akumulasi dari sebab akibat yang terjadi di masyarakat, sehingga melahirkan tokoh-tokoh pembaharuan yang mengadakan perubahan terhadap keadaan yang sedang berlangsung walaupun harus berlawanan dengan faham dan pemikiran yang ada.
Karakteristik pembaharuan Islam yang terjadi di Mesir dan Turki ada  keragaman yang menjadi  acuan serta latar belakang tokohnya. Pembaharuan di Mesir lebih banyak berangkat dan digerakan pembaharuan pemikiran akademis baik itu dari lulusan Al-Azhar sebagai tempat khazanah ilmu atau perguruan tinggi lainnya. Begitu pula latar belakang kehidupan dan pengalaman seorang tokoh pembaharu akan mewarnai gerakan pembaharuan yang dilakukannya, seperti adanya perbedaan gerakan pembaharuan  Jamaludin al-Afghani dengan Muhammad Abduh.  Sedangkan pembaharuan di Turki lebih terpokus kepada tokoh kepemimpinan atau kelompok yang  menyokong kekuasaan pada saat itu dengan melihat Barat sebagai acuannya.
Di Mesir tokoh pembaharuan berhadapan dengan keadaan pola pendidikan, politik dan sosial keagamaan masyarakat yang sedang mengalami penjajahan dari bangsa Barat, sementara di Turki melihat Barat sebagai negara yang telah mengalahkan mereka di kancah perpolitikan dunia dengan cara mengimbangi atau lebih banyak belajar kepada Barat dalam segala halnya. Sehingga segala sesuatu yang akan menghalangi tujuan tersebut akan dilawan  dengan cara revolusioner seperti yang dilakukan Mustafa  Kemal yang menghapuskan kekhilafahan Turki Usmani menjadi Republik Turki.
Tujuan akhir dari pembaharuan yang dilakukan oleh tokoh pembaharuan bagaimana Islam dapat menjawab segala persoalan yang terjadi di masyarakat dan tetap sesuai di segala zaman, serta ajaran Islam memberikan kontribusi yang positif dalam setiap perkembangan zaman. Wallahu a’lam bi showab.

B.     Saran
Mohon maaf, apabila sekiranya ada kesalahan dalam kata – kata maupun uraiannya yang kurang berkenan di dalam makalah ini. Maka dari itu kami para penyusun  meminta dan menerima kritik dan sarannya dari teman – teman semua.










DAFTAR PUSTAKA


·        www.badilag.net%2Fdata%2FARTIKEL%2FPembaruan%2520Hukum%2520Keluarga%2520Di%2520Turki.pdf.










0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Host