Pencarian

Saturday, November 1, 2014

KARYA TULIS MUSEUM SASMITA LOKA



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Museum Dirgantara Mandala terletak di daerah Janti. Di tempat ini sejumlah barang-barang, khususnya alat tempur masa lalu disimpan dan menjadi bukti perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Melihat-lihat koleksi museum ini, terbayang bagaimana sosok TNI Angkatan Udara (AU) pada masa lalu. Di museum ini terdapat sekitar 40-an jenis pesawat beserta alutsista yang pernah digunakan AU pada era 1945-1970. Salah satunya jenis Tu-16 yang terletak di pelataran museum.  Selain itu di tempat yang tidak terlalu jauh terdapat PBY-5A Catalina dan UF 1 Albatros IR-0117. Catalina buatan AS masuk ke jajaran Skadron V Lanud Abdulrachman Saleh pada 1950. AURI mendapatkan delapan Catalina bekas pakai AU Hindia Belanda sebagai realisasi Konferensi Meja Bundar, 1949.
Sementara Albatros, pesawat amfibi angkut sedang buatan AS juga masuk ke dalam jajaran Skadron V Intai Laut AURI- Lanud Abdulrachman Saleh tahun 1955. AURI membeli sebanyak delapan pesawat dari AS.
Selain, ketiga pesawat, di halaman masih ditempatkan rudal pertahanan udara jarak sedang SA-75 buatan Soviet alat ini sempat digunakan sebagai salah satu senjata untuk mempertahankan Ibu Kota. Museum Dirgantara Mandala sejarahnya berasal dari penggabungan dua museum yakni Museum Pusat AURI yang didirikan 1967 di Jakarta dan Museum Pendidikan atau Taruna yang sudah ada di komplek pendidikan AKABRI Bagian Udara Jogja. Pada 1977 keduanya kemudian digabungkan.
Museum dirgantara terlengkap satu-satunya di Indonesia ini menempati Area lima hektar dengan luas bangunan 7.600 m2. Gedungnya dibagi menjadi enam ruang. Yakni, RuangUtama, Ruang Kronologi I dan II, Ruang Alutsista, Ruang Paskhas, Ruang Diorama, dan Ruang Minat Dirgantara. Di dalam Ruang Utama, patung empat pahlawan nasional yang menjadi perintis TNI AU dipajang. Mereka, Marsda Anumerta Agustimis Adisutjipto, Marsda Anumerta Prof Abdulrachman Saleh, Marsda Anumerta Abdul Halim Perdanakusuma, dan Marsma Anumerta Iswahjudi.
Begitu banyak manfaat yang kita dapat dengan berkunjung ke museum. Untuk itu, pada kesempatan kali ini, penulis ingin menyajikan karya tulis ini yang berjudul “ Museum Dirgantara “. Semoga karya tulis ini dapat menambah wawasan kita mengenai sejarah berdirinya museum dirgantara.


1.2  Rumusan Masalah
Supaya dalam penyusunan karya tulis ini sesuai dengan apa yang diharapkan, maka penulis menyusunkan rumusan masalahnya sebagai        berikut :
1.      Bagaimana sejarah berdirinya museum Dirgantara ?
2.      Apa saja koleksi museum dirgantara ?



1.3  Tujuan Penulisan
Adapaun tujuan dibuatnya karya tulis ini adalah :
1.      Sebagai syarat untuk mengikuti ujuan nasional
2.      Mengetahui dan mengenal sejarah museum dirgantara
3.      Menambah wawasan tentang sejarah bangsa Indonesia

1.4  Metode Penulisan
Metode penulisan  yang diambil penyusun dalam menyusun karya tulis ini, adalah :
1.      Mencari informasi dengan mengunjungi museum.
2.      Membaca buku yang ada diperpustakaan sekolah yang mengenai museum dirgantara.
3.      Mengunduh data – data tentang museum dirgantara dari internet.

1.5  Sistematika Penulisan
1.      Bab I Pendahuluan
Pada bab ini, penulis menyajikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
2.      Bab II Kajian Teori
Dalam bab ini, penulis menyajikan pandangan umum museum dirgantara, serta pembahasan yang dibagi menjadi beberapa sub pembahasan, serta analisa tentang museum dirgantara.


3.      Bab III Pembahasan
Bab ini memuat Sejarah Museum Dirgantara, Letak Museum Dirgantara, Ketimewaan Museum Dirgantara, Perkembangan Museum Dirgantara, Koleksi Museum Dirgantara, Peranan Museum Dirgantara
4.      Bab III.  Penutup
Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran
5.      Daftar Pustaka

















BAB II
KAJIAN TEORI

2.1  Pandangan Umum Museum Dirgantara
2.1.1        Selayang Pandang Tentang Museum Dirgantara
Berminat mengetahui sejarah perjuangan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI-AU)? Datanglah ke Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, atau yang biasa disingkat Museum Dirgantara. Di museum ini, pengunjung bisa melihat berbagai peninggalan sejarah perjuangan TNI-AU dengan total hampir 10.000 koleksi, meliputi dokumen berupa foto maupun prasasti, patung para pioner TNI-AU, foto dokumentasi, model pakaian dinas, dan diorama.
Di samping itu, museum ini juga menyediakan berbagai macam jenis Alutsista (Alat utama sistem senjata), seperti beragam jenis senjata, puluhan model pesawat, hingga radio pemancar dan radar. Ribuan koleksi Museum Dirgantara tersebut dipamerkan di dalam tujuh ruangan yang berbeda, antara lain Ruang Utama, Ruang Kronologi I, Ruang Kronologi II, Ruang Alutsista, Ruang Paskhas, Ruang Diorama, dan Ruang Minat Dirgantara.

Gambar 2.1.1 Museum Dirgantara

Museum Dirgantara Mandala adalah museum terbesar dan terlengkap mengenai sejarah keberadaan TNI-AU di Indonesia. Lokasi museum sendiri berada di atas area seluas + 5 hektar, dengan luas bangunan sekitar 7.600 m2. Sebelum berlokasi di daerah Wonocatur, Yogyakarta, Museum Pusat TNI-AU berada di Markas Komando Udara V, di Jalan Tanah Abang Bukit Jakarta. Museum tersebut diresmikan oleh Panglima Angkatan Udara Laksamana Roesmin Noerjadin, pada tanggal 4 April 1969.
Berdasarkan pertimbangan bahwa Yogyakarta pada periode 1945-1949 mempunyai peranan penting dalam kelahiran dan perjuangan TNI-AU, serta menjadi pusat pelatihan (kawah candradimuka) bagi para Taruna Akademi Udara, maka museum tersebut akhirnya dipindahkan ke Yogyakarta. Museum Pusat TNI-AU kemudian digabung dengan Museum Ksatrian AAU (Akademi Angkatan Udara) yang sebelumnya sudah ada di Yogyakarta. Peresmian museum baru tersebut dilakukan oleh Marsekal TNI Ashadi Tjahjadi menjadi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala pada tanggal 29 Juli 1978 yang bertepatan dengan peringatan Hari Bhakti TNI AU.

2.1.2        Manajemen Museum
Manajemen museum terdiri dari beberapa unsur.Manajemen adalah salah satu penentu dari keberhasilan sebuah museum.Karena bisa di bilang sebuah manajemen adalah tonggak dari museum yang akan didirikan. Di museum dirgantara mandala sendiri ada beberapa manajemen antara lain :
1.      Manajemen Operasional
Museunm dirgantara mandala tni au beroperasi mulai dari hari minggu sampai dengan kamis pukul 08.00 hingga 13.00 sedangkan untuk hari jumat dan hari sabtu beroperasi dari pukul 08.00 hingga pukul 12.00 untuk hari senin dan hari libur nasional sendiri museum ini tutup.
Sejauh ini manajemen museum dirgantara mandala sudah berjalan baik.Petugas yang melayani pengunjung cukup ramah dalam melayani pengunjung.bahkan dalam hal ini mereka telah menyediakan guide untuk menuntun para pengunjung dalam menyusuri ruang-ruang koleksi yang terdapat dalam museum ini.
Dalam upaya merawat koleksipun para pengurus museum tidak ketinggalan.Karena semua koleksi museum ini selalu dibersihkan setiap harinya oleh para penjaga museum.Dan re koleksi benda-benda sejarah yang berhubungan dengan museum dirgantara mandala pun sudah mulai dilakukan.
2.      Manajemen Pemasaran
Dalam melakukan publikasi tentang eksistensi museum sebenarnya sudah lumayan bagus tetapi publikasi masih terbatas dalam lingkungan kerja para militer.Karena publikasi yang gencar dilakukan adalah di sebuah majalah yang di terbitkan oleh tni au. tetapi selain itu museum ini sudah mengikuti berbagai festival dan mengikuti pameran bersama BARASMUS.
Hal yang sangat menarik adalah museum ini sudah memiliki buku panduan tentang koleksi,denah tata ruang,dan berbagai informmasi umum lainnya yang membantu pengunjung dalam memahami museum ini.Walaupun setiap bukunya harus dihargai dengan harga 5000 rupiah tetapi ini sangat memanjakan pengunjung karena tidak perlu repot repot mengumpulkan informasi secara manual.Terutama ditujukan untuk para pelajar yang sedang study tour.sedangkan untuk brosur bisa diambil secara gratis.
3.      Manajemen Sumber Daya Manusia
Dalam hal manajemen sumber daya manusia museum ini memang agak kurang baik.terutama dengan sangat terbatasnya para pegawaiu museum untuk ukuran museum sebesar itu.para pegawai agaknya mengalami kesulitan ketika pengunjung museum memebludak.tetapi kalau untuk hari-hari normal museum ini dapat membagi tugas dengan cukup apik.Hanya saja kiranya perlu penambahan tenaga dalam pengoperasian museum ini.Dan juga ada pelatihan untuk para pegawai agar dapat mengembangkan museum lebih baik lagi ke depannya.


2.2  Analisa Untuk Museum Dirgantara Mandala
2.2.1        Kelebihan Museum Dirgantara
Museum dirgantara mandala adalah museum sejarah terbesar tentang penerbangan di indonesia.Hal ini membuat fokus dalam hal sejarah penerbanagan akan jatuh langsung kepada museum ini.selain itu museum dengan koleksi yang banyak dan terawat ini juga tidak memungut uang yang terlalu mahal untuk sekali kunjungan.lokasi museum yang asri dan sejuk serta kecakapan petugas museum dalamm memandu pengunjung pun tak dapat diragukan lagi.

2.2.2        Kelemahan Museum Dirgantara
Kelemahan dari museum ini hampir sama dengan kelemahan pada museum umumnya.yang sangat terasa yaitu adalah kelemahan dalam bidang :
1.      kurangnya pendanaan untuk museum yang mengakibatkan pihak museum harus menarik uang kebersihan sebesar 3000 rupiah per orang untuk mengunjungi museum ini.
2.      letak museum. dalam hal letak atau lokasi sebenarnya museum ini dapat ditempuh dengan mudah dikarenakan adanya akses trans yogya yang beroperasi dengan tiket murah dan nyaman tetapi karena berada dalam kompleks sebuah kemiliteran yang agak tersembunyi maka banyak orang yang tidak tahu dengan keberadaan museum ini.

2.2.3        Peluang Museum Dirgantara
Sebenarnya banyak sekali peluang yang bisa diharapkan atau dikelola dari museum dirgantara mandala ini antara lain:
1.      Koleksi yang lengkap merupakan peluang untuk menarik pengunjung
2.      Banyaknya anak-anak sekolah yang tertarik dengan keberadaan museum ini karena sejarah dan koleksinya
3.      Adanya perawatan dari koleksi yang baik dari pihak manajemen museum

2.2.4        Ancaman Museum Dirgantara
Pendanaan museum yang sangat terbatas dalam hal ini merupakan ancaman besar untuk kelangsungan museum ini karena dapat menghambat pihak museum untuk mengembangkan diri baik dalam perawatan kleksi ataupun untuk pendanaan manajerial dan publishing.Hal ini akan mempengaruhi eksistensi museum untuk masa yang akan datang.
BAB III
PEMBAHASAN MASALAH

3.1  Sejarah Museum Dirgantara
Perkembangan dunia penerbangan di Indonesia tidak hanya dilihat dari perkembangan kemampuan kedirgantaraan militer, tapi juga sipil. Bukankah Indonesia pernah sangat mengagumi keberadaan perusahaan pembuat kapal terbang yang kini bernama PT Dirgantara Indonesia? Untuk menelusuri hal tersebutlah maka melakukan napak tilas sejarah museum dirgantara akan sangat menarik apalagi bila melakukan kunjungan ke kedua tempat berikut. Pastinya akan semakin menarik dan menyenangkan.
Museum ini terletak di Yogyakarta, tepatnya di sisi utara kabupaten Bantul. Museum ini berbatasan dengan kabupaten Sleman, yakni di kawasan kompleks pangkalan udara TNI AU Adisucipto Yogyakarta. Tak terlalu mengherankan mengapa museum ini didirikan di Yogyakarta. Selain kota Yogyakarta dipandang sebagai kota perjuangan, Akademi AURI juga ada di Yogyakarta. Untuk lebih memberikan pelajaran sejarah kedirgantaraan juga sebagai upaya mewariskan semangat juang kepada generasi yang akan datang.

Gambar 3.1 Prasasti Peresmian Musum Dirgantara

Inilah salah satu pertimbangan penggabungan dua buah museum AURI - Museum Pusat TNI AU Roesmin Nuryadin di Jakarta yang diresmikan pada tanggal 4 April 1969 dan Museum pendidikan/ karbol Yogyakarta. Penggabungan tersebut setelah KASAU mengeluarkan Surat Keputusan No. Kep/II’IV/1978 tanggal 17 April 1978 yang menetapkan bahwa Museum Pusat AURI yang semula berkedudukan di Jakarta, dipindahkan ke Yogyakarta.
Meskipun letaknya tersembunyi di dalam kompleks TNI AU, museum ini mudah diakses. Dari Jalan utama Janti Yogyakarta, Anda hanya perlu melaju hingga 200 meter. Jalan tersebut juga jalan yang cukup ramai dan dilewati kendaraan umum, sehingga para pengunjung tidak perlu khawatir jika tidak membawa kendaraan pribadi. Dengan area seluas lima hektar dan bangunan seluas 7.600 m2, museum Dirgantara Mandala merupakan museum dirgantara yang paling lengkap di seantero Indonesia.

3.2  Letak Museum Dirgantara
Museum Dirgantara Mandala terletak di daerah Janti. Di tempat ini sejumlah barang-barang, khususnya alat tempur masa lalu disimpan dan menjadi bukti perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Melihat-lihat koleksi museum ini, terbayang bagaimana sosok TNI Angkatan Udara (AU) pada masa lalu.  Museum Dirgantara Mandala sejarahnya berasal dari penggabungan dua museum yakni Museum Pusat AURI yang didirikan 1967 di Jakarta dan Museum Pendidikan atau Taruna yang sudah ada di komplek pendidikan AKABRI Bagian Udara Jogja. Pada 1977 keduanya kemudian digabungkan.
Tonggak dasar dalam mendirikan museum di lingkungan TNI AU adalah  dengan dikeluarnya Surat Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Udara Nomor : 491 Tanggal 6 Agustus 1960 tentang Dokumentasi, Sejarah dan Museum Angkatan Udara Republik Indonesia, namun realisasi bentuk museum belum berwujud secara nyata sehingga para pemimpin TNI AU memandang perlu adanya usaha untuk memajukan keberadaan museum dengan cara melengkapi sarana dan prasarana yang diperlukan. Upaya ini ditindaklanjuti dengan dikeluarkannya Instruksi Menteri/Panglima Angkatan Udara No. 2 Tahun 1967 tanggal 30 Juli 1967 tentang Peningkatan Kegiatan Bidang Sejarah, Budaya dan Museum Angkatan Udara. Sejak saat itu mulai ada titik terang dalam meletakkan rencana kerja bagi perkembangannya.
Pada tanggal 4 April 1969 diresmikan berdirinya Museum Pusat Angkatan Udara Republik Indonesia oleh Menteri Panglima Angkatan Udara Laksamana Udara Roesmin Nurjadin yang berlokasi di kawasan Markas Komando Wilayah Udara V (Makowilu) Jalan Tanah Abang Bukit Jakarta Pusat. Sebelumnya,  bertepatan dengan Hari Bakti TNI AU tanggal 29 Juli 1968 di Lembaga Pendidikan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) Bagian Udara Yogyakarta yang saat ini bernama Akademi Angkatan Udara (AAU) telah diresmikan berdirinya Museum Pendidikan Karbol oleh Men/Pangau Laksdya Udara Roesmin Nurjadin. Upaya-upaya untuk mengintegrasikan kedua museum tersebut mulai dilakukan.
Lokasi yang direncanakan adalah Yogyakarta, dengan dasar pertimbangan penentuan lokasi museum berada di Yogyakarta adalah sebagai berikut :
1.      Pada tahun 1945-1949 Yogyakarta memegang peranan penting sebagai tempat lahir dan pusat perjuangan TNI Angkatan Udara.
2.      Yogyakarta adalah tempat penggodokan Taruna-taruna Angkatan Udara (Karbol) sebagai calon  perwira TNI AU.
3.      Perlu pemupukan semangat minat dirgantara, nilai-nilai 45 dan tradisi juang TNI AU yang mengacu  pada semangat Maguwo.

Atas dasar pertimbangan tersebut, Kepala Staf TNI Angkatan Udara mengeluarkan keputusan No. Kep/11/IV/1978 tanggal 17 April 1978 yang menetapkan bahwa Museum Pusat AURI yang semula berkedudukan di Jakarta dipindahkan ke Yogyakarta, diintegrasikan dengan Museum Pendidikan/Museum Karbol menjadi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala dengan memanfaatkan bekas gedung Link Trainer yang berada di kawasan kesatrian AKABRI Bagian Udara. Operasi boyong perpindahan benda-benda koleksi museum dari Museum Pusat AURI di Jakarta ke Yogyakarta (AKABRI Bagian Udara) telah mulai sejak Nopember 1977. Penyempurnaan selanjutnya setelah pengintegrasian adalah keluarnya Keputusan Kasau Nomor : Skep/04/IV/1978 tanggal 17 April 1978, tentang pemberian nama Museum Pusat TNI AU ”Dirgantara Mandala”.  Hal ini dilaksanakan bersamaan dengan peresmian Museum Sekbang Pertama 1945 yang berlokasi di dekat Base Ops Lanud Adisutjipto.
Koleksi-koleksi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala terus berkembang terutama alutsista udara berupa pesawat terbang, sehingga gedung museum di Kesatrian  AKABRI Bagian Udara tidak dapat menampung. Pimpinan TNI AU memutuskan untuk memindahkan lagi, selanjutnya museum dipindahkan menempati gedung bekas pabrik gula di Wonocatur Lanud Adistujipto.
Sebagai tanda dimulainya pembangunan/rehabilitasi gedung tersebut, maka pada tanggal 17 Desember 1982 Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Ashadi Tjahjadi menandatangani sebuah prasasti. Hal ini diperkuat dengan  Surat Perintah Kepala Staf TNI AU No. Sprin/05/IV/1984 tanggal 11 April 1984 tentang rehabilitasi gedung bekas pabrik gula tersebut untuk dipersiapkan sebagai gedung permanen Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, yang kemudian diresmikan pada tanggal 29 Juli 1984 oleh Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Sukardi, dengan luas area museum seluruhnya + 8,2 Ha. Luas bangunan seluruhnya yang digunakan 8.765 M2. Tempat ini yang hingga sekarang dipergunakan sebagai museum dan telah dilakukan beberapa kali renovasi dalam rangka penyempurnaan sehingga menjadi tempat yang layak sebagai sebuah museum.
Museum ini dapat dijangkau dengan sarana transportasi sebagai berikut :
1.      Kendaraan pribadi dapat langsung ke lokasi museum dengan pintu masuk tepat di sebelah SD Angkasa Lanud Adisutjipto di tepi jalan raya rute Yogya-Solo.
2.      Dari terminal bus Yogyakarta,  dapat menggunakan bus jurusan  Solo atau bus kota jalur 7 menuju museum dengan cek point SD Angkasa.
3.      Dari stasiun Tugu Yogyakarta,  menggunakan bus kota ke terminal bus dan dilanjutkan menuju museum dengan cek point SD Angkasa seperti tersebut pada butir 2.
4.      Dari Bandara Adisutjipto menuju museum kurang lebih 3 km, dapat  menggunakan taksi atau kendaraan umum/bus-colt menuju ke Yogya, dengan cek point SD Angkasa.


3.3  Ketimewaan Museum Dirgantara
Mengunjungi Museum Dirgantara, wisatawan akan disambut oleh beberapa pesawat tempur dan pesawat angkut yang dipajang di halaman museum. Salah satu koleksi terbaru museum ini adalah pesawat tempur tipe A4-E Skyhawk yang dipajang di muka gedung museum. Hingga tahun 2003, TNI-AU telah mengoperasikan sebanyak 37 pesawat A4-E Skyhawk, sebelum akhirnya beberapa pesawat digantikan oleh pesawat Sukhoi tipe Su-27SK dan Su-30MK.
Memasuki gedung museum, pengunjung akan disambut oleh patung empat tokoh perintis TNI-AU, yaitu Marsekal Muda Anumerta Agustinus Adisutjipto, Marsekal Muda Anumerta Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, Marsekal Muda Anumerta Abdul Halim Perdanakusuma, dan Marsekal Muda Anumerta Iswahjudi. Para perintis TNI-AU ini telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional, dan diabadikan menjadi nama bandar udara di berbagai kota di tanah air.
Gambar 3.2.a Patung para perintis TNI AU
Pada ruangan selanjutnya, pengunjung akan dikenalkan pada sejarah awal pembentukan angkatan udara di Indonesia. Di Ruang Kronologi I ini, Anda dapat melihat foto dan informasi yang berhubungan dengan pembentukan angkatan udara indonesia, semisal 'Penerbangan Pertama Pesawat Merah Putih' pada 27 Oktober 1945 yang melakukan misi pembalasan atas serangan Belanda, berdirinya 'Sekolah Penerbangan Pertama di Maguwo' pada 7 November 1945 yang dipimpin oleh A. Adisutjipto, berdirinya Tentara Rakyat Indonesia (TRI) Angkatan Udara pada 9 April 1946, serta berbagai perlawanan udara untuk melawan agresi militer Belanda lainnya.
Di ruangan ini juga dipamerkan berbagai peralatan radio dan foto penumpasan berbagai pemberontakan di tanah air, seperti pemberontakan DI/TII, Penumpasan G 30 S/PKI, serta Operasi Seroja. Pada ruangan selanjutnya, dipajang berbagai jenis pakaian dinas yang biasa digunakan oleh para personel TNI-AU, meliputi pakaian tempur, pakaian dinas sehari-hari, hingga pakaian untuk tugas penerbangan.

Gambar 3.2.b Ruang Kronologi I dan Ruang Kronologi II

Ruangan yang akan membuat Anda berdecak kagum adalah Ruangan Alutsista atau Alat Utama Sistem Senjata yang pernah digunakan oleh TNI-AU. Alutsista ini meliputi pesawat tempur dan pesawat angkut, model mesin-mesin pesawat, radar pemantau wilayah udara, serta senjata jarak jauh seperti rudal. Koleksi pesawat di ruangan ini mencapai puluhan, mulai dari pesawat buatan Amerika, Eropa, hingga buatan dalam negeri. Salah satu pesawat pemburu taktis yang cukup terkenal adalah pesawat P-51 Mustang buatan Amerika Serikat.
Dalam sejarahnya, pesawat ini telah digunakan dalam berbagai operasi menjaga keutuhan negara, terutama dalam penumpasan pemberontakan DI/TII, Permesta, dan G 30 S/PKI, serta ikut andil dalam Operasi Trikora dan Operasi Dwikora. Pesawat lainnya yang tak kalah menarik adalah pesawat buatan Inggris, namanya Vampire tipe DH-115. Pesawat ini merupakan pesawat jet pertama yang diterbangkan di Indonesia pada tahun 1956 oleh Letnan Udara I Leo Wattimena.

Gambar 3.2.c Ruang Alutsista dan pesawat P-51 Mustang

Koleksi lainnya yang sangat penting dalam sejarah TNI-AU adalah replika pesawat C-47 Dakota dengan nomor registrasi VT-CLA yang ditembak jatuh di daerah Ngoto, Bantul, oleh Belanda ketika hendak mendarat di Maguwo Yogyakarta pada 29 Juli 1947. Pesawat ini semula berangkat dari Singapura dengan misi kemanusiaan, yaitu mengangkut bantuan obat-obatan. Penerbangan tersebut sebetulnya telah diumumkan dan disetujui oleh kedua belah-pihak (Belanda-Indonesia).
Namun, oleh Belanda pesawat tersebut kemudian ditembak jatuh dan menewaskan para pionir Angkatan Udara, antara lain Komodor Muda Udara Adisutjipto, Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdulrahman Saleh, serta Opsir Muda Udara I Adisumarmo Wirjokoesoemo.

Gambar 3.2.d Replika bekas potongan pesawat C-47 Dakota

Seperti diutarakan oleh F Djoko Poerwoko, untuk menghormati gugurnya para pahlawan udara tersebut, maka nama-nama pioner TNI-AU itu kemudian diabadikan sebagai nama pangkalan udara di Jawa sejak tahun 1952, antara lain Adisutjipto di Yogyakarta, Abdulrahman Saleh di Malang, dan Adisumarmo di Solo. Tanggal 29 Juli sebagai tanggal gugurnya para pahlawan TNI-AU tersebut juga diperingati sebagai 'Hari Berkabung AURI' sejak tahun 1955, kemudian diganti menjadi 'Hari Bhakti Angkatan Udara' sejak tahun 1961.



3.4  Perkembangan Museum Dirgantara
Dengan pertimbangan bahwa koleksi Museum Dirgantara Mandala terus berkembang dan bertambah, terutama alut sistra udara berupa pesawat terbang, sehingga gedung Museum di Ksatrian AKABRI Pagian Udara tidak dapat menampung, serta lokasinya sukar di jangkau pengunjung, maka pimpinan TNI AU memutuskan untuk memindahkannya lagi.
Pada tanggal 17 Desember 1982, KASAU Marsekal TNI Ashadi Tjahjadi menandatangani prasasti sebagai tanda dimulainya pembangunan atau rehab bangunan tersebut. Hal itu juga diperkuat dengan Surat Perintah KASAU No. Sprin/05/IV/1984 tanggal 11 April 1984 tentang Rehabilitasi Gedung tersebut untuk mempersiapkan sebagai gedung permanen Museum.
Selanjutnya tanggal 29 Juli 1984 KASAU Sukardi meresmikan penggunaan gedung tersebut sebagai Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandal, yang hingga saat ini dari 4.200 m2 bangunan induk yang ada, telah digunakan seluas 3.600 m2 untuk pameran dan 600 m2 lainya untuk gudang dan mushola.








3.5  Koleksi Museum Dirgantara
Secara keseluruhan, gedung museum dirgantara di Yogyakarta ini memiliki 6 ruangan besar. Keenam ruangan tersebut adalah ruang utama, ruang alutsista, ruang kronologi I dan II, ruang diorama, ruang paskhas, dan ruang minat dirgantara. Inilah beberapa di antaranya:
1.       Ruang Utama
Ruangan ini memiliki beberapa koleksi foto mantan pemimpin TNI AU, seperti Laksamana Udara Suryadi (kepala staf TNI AU di tahun 1946 – 1962), Laksamana Muda Udara Sri Muljono Herlambang (menteri panglima angkatan udara di tahun 1965 – 1966), Laksamana Udara Omar Dani (menteri panglima angkatan udara di tahun 1962 – 1965), Laksamana Muda Udara Roesmin Nurjadin (menteri panglima angkatan udara di tahun 1966 – 1969), Marsekal TNI Saleh Basarah (kepala staf TNI AU di tahun 1973 – 1976).
Tidak hanya koleksi foto para tokoh TNI Angkatan Udara, di ruangan utama ini Anda juga bisa melihat koleksi berbagai lambang dan motto koprs TNI AU. Beberapa di antaranya adalah lambang TNI AU yang disebut “Swa Bhuwana” (artinya “sayap tanah air”), motto Pataka Komando Operasi TNI AU (Koopsai) yang berbunyi “Abhibuti Antarikhse” (artinya “keunggulan di udara adalah tujuan utama”), motto Komando Panduan Tempur Udara (Kopatdara) yang berbunyi “Nitya Smakta Maarwati Sarwabaya” (artinya “senantiasa siaga bertindak terhadap segala ancaman bahaya”), dan motto Pataka Komando Pertahanan Udara (Kohadud) yang berbunyi “Surakhsita Nabhastata” (artinya “udara yang dipertahankan dengan baik”).
2.      Ruang kronologi I dan II
Jika ingin melihat-lihat diorama sejarah serta dokumen-dokumen dari masa proklamasi kemerdekaan, pendirian AURI, peristiwa serangan udara pertama di wilayah Semarang – Salatiga – Ambarawa, operasi militer penumpasan PKI di Madiun, operasi lintas udara, pembentukan Skadron AURI di tahun 1950, penumpasan gerakan DI/TII-PRRI, operasi non-militer dari TNI AU, dan operasi-operasi lainnya, masukilah ruangan ini.
3.      Ruang Alutsista
Sesuai namanya, di ruangan ini Anda bisa melihat-lihat koleksi peralatan tempur milik TNI AU. Beberapa jenis peralatan tempur yang bisa Anda jumpai adalah senjata penangkis serangan udara, rudal anti-pesawat, dan berbagai jenis senapan yang digunakan untuk menumpas penjajah Belanda. Anda juga bisa melihat pesawat-pesawat.
Jika ingin mencoba menaiki pesawat-pesawat tersebut, silakan saja. Setiap pengunjung diperbolehkan duduk di pesawat untuk mengamati lebih dekat teknologi pesawat tempur di masa lalu. Pesawat-pesawat yang berada di museum ini adalah pesawat jenis TU-16, PBY-5A Catalina, UF 1 Albatros IR-0117. Ketiga pesawat tersebut memiliki nilai sejarah tersendiri terkait perjuangan kemerdekaan Indonesia.


4.      Ruang Diorama
Ruangan diorama dipenuhi berbagai jenis diorama, dari diorama pesawat sampai diorama peristiwa-peristiwa bersejarah. Beberapa diorama yang bisa Anda lihat di ruangan ini adalah diorama peristiwa 29 Juli 1947, diorama penerbangan pertama pesawat merah putih, diorama pasca-penerbangan pesawat merah putih, serta diorama satelit palapa.

3.6  Peranan Museum Dirgantara
1.       Peranan Museum Dirgantara Bagi Dunia Pendidikan
Pemanfaatan museum sebagai media pembelajaran dapat dilakukan untuk meningkatkan pemahaman pelajar terhadap materi zaman prasejarah. Hal ini dikarenakan dalam museum terdapat berbagai macam media yang membantu siswa memahami materi tentang zaman prasejarah secara nyata. Melalui museum, pelajar belajar secara langsung tentang zaman prasejarah baik melalui realita, model, grafis, dan sistem multimedia, sehingga informasi yang didapatkan tidak bersifat verbalistis dan abstrak, tetapi besifat konkret. Adanya informasi konkret dari media ini, akan membantu tewujudnya konsep visualisasi, intrepretasi, dan generalisasi pelajar terhadap materi zaman prasejarah. Dengan tercapainya tiga aspek tersebut, yaitu visualisasi, interpretasi, dan generalisasi maka pemahaman pelajar terhadap materi zaman prasejarah telah terwujud.
Pembelajaran berbasis media merupakan model pembelajaran dengan optimalisasi penggunaan media sebagai sarana peningkatan pemahaman pelajar tentang materi tertentu. Dalam pembelajaran sejarah, media pembelajaran memegang peranan penting (Kasmadi, 1996; Widja, 1989). Salah satu bentuk pembelajaran berbasis media adalah dengan penggunaan museum sebagai media pembelajaran. Dalam pembelajaran sejarah, museum berfungsi untuk mewujudkan visualisasi, interpretasi, dan generalisasi. Hal ini dikarenakan terdapat banyak media yang menyampaikan berbagai informasi kepada pelajar, khususnya tentang zaman prasejarah. Media yang terdapat dalam museum yang dapat menjelaskan tentang materi zaman prasejarah antara lain bagan, grafik, gambar, diorama, sistem multimedia, serta replika dan model. Oleh karena itu, dengan optimalisasi penggunaan media pembelajaran akan terwujud kegiatan pembelajaran yang efektif, sehingga pemahaman pelajar tentang materi zaman prasejarah akan terwujud.
Tidak dapat lepas dari kegiatan pembelajaran. Dalam pembelajaran sejarah, media pembelajaran merupakan hal penting yang harus digunakan. Hal ini disebabkan sejarah merupakan peristiwa atau kegiatan yang dilakukan oleh manusia pada masa lampau, sehingga untuk mempermudah pemahaman pelajar tentang peristiwa sejarah, khususnya zaman prasejarah penggunaan media mutlak digunakan. Penggunaan museum merupakan salah satu cara yang efektif dalam mewujudkan pemahaman pelajar tentang zaman prasejarah. Hal ini dikarenakan dalam museum terdapat berbagai macam media yang memberikan informasi konkret kepada pelajar tentang zaman prasejarah. Adapun media yang terdapat dalam museum antara lain diorama, media grafis, foto dan gambar, serta media elektronik. Dengan demikian museum sebagai media pembelajaran berfungsi untuk mewujudkan visualisasi, intepretasi, dan generalisasi pelajar.
Dalam menjalankan fungsi pendidikan Sejarah di Museum harus bisa memberikan pengalaman dari koleksi-koleksi benda Museum sehingga mendukung untuk memudahkan para peserta didik mengerti akan setiap rentang waktu yang terjadi baik di zaman prasejarah maupun zaman sejarah.
2.       Peranan Museum Dirgantara Bagi Masyarakat
a.       Pemahaman Kebudayaan Melalui Museum
Masyarakat dan kebudayaan adalah ibarat mata uang yang satu sisinya berupa ungkapan sistem sosial dan sisi lainnya adalah sistem budaya. Interaksi alam fisik dan manusia melalui masa dan ruang membina pelbagai insitusi sosial dan budaya yang selaras dengan keperluan hidup masyarakat, sedangkan pelbagai insitusi sosial dan budaya adalah respon manusia untuk menyelesaikan pelbagai masalah dan memenuhi desakan hidup sambil bersedia menghadapi tantangan mendatang. Bahan-bahan dari segala macam institusi sosial tidak hanya dilihat sebagai himpunan warisan masa lampau,. Tetapi petanda dinamika dan sumber daya yang mampu beradaptasi dengan desakan, baik dalam maupun luar sistem sosial budaya itu sendiri.
Aspek kebudayaan masyarakat secara universal dapat diamati kehadirannya di setiap masyarakat. Kebudayaan adalah wujud daya cipta, rasa, dan karsa manusia. Kebudayaan adalah hal penting yang menghubungkan manusia dengan lingkungannya. Kebudayaan juga menjadi blue print atau pedoman bagi manusia. Dengan kebudayaan inilah manusia tampak berbeda dengan binatang. Dengan kebudayaan, manusia dapat bertahan dan melangsungkan hidupnya.
Ada beberapa cara kita dapat mengetahui kebudayaan masyarakat. Salah satu cara yang dilakukan seseorang atau kelompok untuk mengetahui gambaran kebudayaan masyarakat setempat adalah dengan datang ke museum. Hal itu karena di museumlah mereka dapat melihat gambaran tentang sebuah peradaban budaya daerah, baik zaman purbakala maupun di zaman modern.
Perkembangan museum di Indonesia saat ini dapat dikatakan cukup bagus, tetapi tentu memerlukan peningkatan-peningkatan agar Indonesia sebagai bangsa yang menghargai hasil karya pendahulunya dan melestarikan warisan budaya leluhur sehingga museum sebagai fasilitator masyarakat dengan peradaban budaya dapat diwujudkan. Museum juga diharapkan mampu menjadi mediator yang tidak membedakan kebudayaan antardaerah, tetapi tercipta peradaban yang multikultural, yaitu menjadikan perbedaan budaya menjadi suatu warna yang meramaikan khasanah kebudayaan bangsa sebagai identitas bangsa. Itulah peran museum. Lalu, seberapa besarkah peran museum saat ini?
Museum diharapkan tidak hanya sekedar memantulkan perubahan-perubahan yang ada di lingkungan, tetapi juga sebagai media untuk menunjukkan perubahan sosial serta pertumbuhan budaya dan ekonomi. Museum berperan dalam proses transformasi yang mewujudkan perkembangan struktur intelektual dan tingkat kehidupan yang membaik. Perkembangan tersebut tentu disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang bersangkutan dalam bahasa dan budayanya masing-masing. Inilah makna yang ingin disampaikan dan di transkripsikan oleh museum lewat benda yang disajikan atau dipamerkan sebagai instrumen memahami masyarakat pendukungnya.
Museum dalam bentuk apapun, baik secara ilmiah, seni maupun sejarah tentu tidak sekedar dibicarakan dalam artian teoritis semata. Museum diharapkan berarti praktis yang dapat diimplementasikan dengan kisaran jumlah publik yang tidak sedikit. Dengan demikian, bicara mengenai museum sebagai media komunikasi massa harus mendapatkan klaim dari semua golongan masyarakat. Museum tidak hanya diklaim menjadi tanggung jawab pemerintah semata, tetapi sangat perlu didukung oleh para akademisi, peneliti, bahkan pengusaha. Jadi, peran museum diharapkan dapat mendukung pembangunan nasional, pembangunan masyarakat seluruhnya dan seutuhnya. Kita harus terus ingat bahwa pembangunan ataupuin modernisasi bukan sekedar know what, tetapi proses know how.

b.       Berperan dalam Memerankan Peran Museum
Apa yang patut segera dilakukan agar museum berperan demikian? Museum tidak boleh menjadi lembaga yang pasif, tetapi sebaliknya museum harus peserta aktif dalam pembangunan. Bisa diungkapkan atau menggunakan slogan museum –out-reach goal dengan bahasa bahwa apabila publik tidak datang ke museum, maka museumlah yang datang ke publik. Museum harus mampu menghadapi tantangan global di mana kontak antarbudaya tidak dapat dielakkan, termasuk berani menghadapi ‘image” museum yang dianggap kuna dan antik, kemudian mengubahnya menjadi sesuatu yang menyenangkan. Mengubah image ibarat pepatah Bagai Mengubah Tekuk, yang berarti mengubah kebiasaan tidaklah mudah, tetapi yakinlah bahwa jika itu dilakukan terus menerus dilakukan akan berhasil ibarat pepatah Belakang Parang pun Kalau Diasah Akan Tajam.
Benda-benda koleksi yang dipamerkan harus dirancang sedemikian rupa termasuk menunjukkan adanya isu-isu masa kini yang berjalan dengan fakta sejarah. Kegiatan yang dilakukan di museum tidak sekedar melihat benda koleksi yang indah, tetapi bagaimana agar yang datang ke museum pulang tetapi ingin kembali datang ke museum karena museum dianggap mempunyai daya tarik tersendiri. Ada yang mem buat saya cukup bangga saat ini, sudah cukup banyak pengelola museum yang membolehkan museumnya digunakan untuk acara-acara kegiatan kemasyarakatan, melakukan seminar untuk mengasah intelektual, dan yang terpenting museum tidak digunakan untuk sebagian kecil orang saja.
Paradigma tersebut tentu agak kontraversial dengan pemikiran terdahulu yang melihat museum sebagai tempat yang dipenuhi roh-roh leluhur yang menyeramkan. Pada hakikatnya museum dapat bersifat profan pada batas-batas tertentu tanpa harus menghilangkan nilai sakral yang berada di dalamnya jika itu memang yang sesuai dengan kondisi masyarakatnya. Pengelola museum tak perlu merasa terbebani dengan peran museum yang meluas, tidak sekedar menjadi tempat barang-barang sejarah itu diletakkan, karena ada yang lebih penting dari itu yaitu bagaimana nilai sejarah dari benda itu dapat tersampaikan kepada masyarakat.
Dengan demikan, tentu museum bukanlah komoditas privat bagi sebagian orang, tetapi milik masyarakat bersama yang ingin mengetahui dan mendapatkan kepuasan mendalam dan kenikmatan dengan datang ke museum. Museum dapat menjadi media yang efektif untuk menyajikan proses pembangunan hasil-hasilnya dapat dimengerti oleh masyarakat. Museum membantu mengintegrasikan perubahan dalam masyarakat dan menciptakan keseimbangan dalam peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat dan terus melestarikan kepribadian suatu bangsa melalui nilai-nilai dan pola-pola budaya yang terkandung di dalamnya. Di sinilah peran museum yang tidak sekedar sebagai sarana hiburan, tetapi media untuk menancapkan nilai dan semangat yang mengakar umbi sebagai wadah patriotisme dan nasionalisme yang terancam dengan landaan globalisasi.
Dalam menghadapi krisis global, museum juga harus berani melangkah. Museum seharusnya tidak membatasi diri dengan pengkategorian museum sebagai kebudayaan material yang dimiliki segelintir orang yang menyukai keindahan, tetapi harus mampu mengintegrasikan multidisiplin ilmu dalam menampilkan perkembangan dan keterkaitan kebudayaan masyarakat sesuai dengan ekologi dunia, splendid isolation yang tetap terbungkus menyenangkan . Kompleksitas dalam perkembangan disiplin ilmu harus diakui dan dihadapi dengan bijak. Artinya, perlu pikiran positif untuk mengakui keterkaitan disiplin ilmu satu sama lain sehingga dapat terwujud kerjasama tim yang maksimal, termasuk dalam mengomunikasikan peran dan fungsi museum. Bahkan, tak perlu fobia untuk menerapkan kretaivitas dan menerima inovasi dalam ilmu permuseuman sehingga peran museum sebagai edukasi yang bertanggung jawab bagi suatu bangsa dapat terwujud.
Sebagai contoh, pandangan masyarakat terhadap museum yang mencerminkan teknologi tradisional tidak menyangkal adanya teknologi modern dalam perkembangannya. Pengemasan museum yang disesuaikan dengan konteks waktu dan ruang yang tepat dapat membantu meningkatkan pengertian sebagai proses produksi dan pemenuhan kebutuhan dengan menyajikan teknologi baru yang tepat guna yang mendukung terpeliharanya keserasian dalam pembangunan. Di negara maju, seperti negara di kawasan Eropa ataupun Amerika, museum memegang peranan yang berhasil membangkitkan kesadaran yang kolektif dan tindakan kebijaksanaan yang baru terhadap perkembangan industralisasi tetapi tetap mencerminkan keserasian lingkungan.
Tugas museum memang seharusnya dapat membantu proses pembangunan yang tetap bertanggung jawab dengan permasalahan ekologi. Museum harus terus menjadi cermin identitas suatu bangsa dan inspirasi bagi masyarakat. Museum dapat berpera serta secara penuh untuk mengomunikasikan secara efektif pengaruh peradaban manusia bagi ekosistem. Museum harus dapat menjadi proyeksi bagi perkembangan zaman, tetapi tetap menjaga stabilitas dan produktivitas masyarakat. Museum perlu merefleksikan diri sebagai tempat yang menggambarkan pusat penelitian, pusat multi media, dan pusat pendidikan dalam melestarikan kebudayaan masyarakat. Namun, harus diingat bahwa pelaksanaan pendidikan atau process of enculturation di museum tidak dapat dijelaskan secara efektif tanpa kerja sama yang erat dan koordinasi dengan lembaga-lembaga lainnya. Sekali lagi, dalam pelaksanaannya memerlukan integrasi inter-disiplin, program, dan metode.
Museum dapat bertindak sebagai fasilitator dan katalisator bagi riset kebudayaan masa lampau sekaligus masa kini di semua ranah, baik lokal, nasional, regional, dan global. Museum integral atau interdisiplin ini tidak untuk mengingkari nilai-nilai museum yang telah ada dan juga tidak meninggalkan prinsip-prinsip museum. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, misalnya kemunculan internet justru harus mampu mendukung pemasaran museum sebagai sumber informasi untuk memberi penerangan dalam menyadarkan identitas suatu bangsa yang menghargai hasil karyanya.


BAB IV
PENUTUP

4.1  Kesimpulan
Dari uraian pembahasan karya tulis ini, penulis mengambil kesimpulan yaitu:
1.          Museum adalah suatu tempat menyimpan benda-benda yang bernilai sejarah agar tidak hilang dan rusak sehingga dapat dinikmati berbagai generasi, itu diharapkan mereka dapat mengetahui sejarah dan dapat menghargai hasil yang telah dicapai generasi terdahulu sehingga mereka dapat mengambil hikmah dan sejarah itu sendiri,
2.          Museum berfungsi menyimpan benda-benda yang bernilai sejarah yang patut mendapat perhatian umum. Selain itu museum merupakan sarana yang efektif untuk mewariskan nilai-nilai luhur perjuangan,
3.          Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala secara visual menggambarkan perjuangan Bangsa Indonesia, khususnya TNI AU dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan NKRI.

3.2  Saran
1.      Dengan mengenal benda-benda bersejarah, tanamkanlah dalam diri kita jiwa dan semangat kepahlawanan,
2.      Lestarikan dan peliharalah peninggalan-peninggalan sejarah agar tidak sampai hilang dan rusak,
3.      Binalah persatan dan kesatuan bangsa agar peristiwa masa lalu tidak kembali,
4.      Teruskanlah perjuangan para pahlawan dengan membangun Bangsa Indonesia lebih maju.
5.      Demikian saran-saran yang dapat penulis kemukakan, semoga bermanfaat untuk kita semua.


















DAFTAR  PUSTAKA















No comments:

Pencarian isi Blog