Selasa, 16 Oktober 2012

Makalah Proses Pembuatan Batik

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Berdasarkan instruksi dari kepala SMA Muhammadiyah Pangandaran untuk melaksanakan study lapangan ke Yogyakarta-Solo. Salah satunya mengunjungi pabrik batik Danar Hadi Solo.Batik merupakan warisan kebudayaan dari Indonesia.Di Indonesia terdapat banyak sekali macam batik seperti batik tulis,batik cap,batik printing,dan lain-lain.
Batik juga memiliki motif yang beragam.Di Indonesia disetiap daerah menciptakan berbagai motif yang berbeda antar daerah,seperti motif batik Solo,motif batik Yogyakarta (keraton),motif batik pekalongan,motif batik Jawa Tengah,motif batik Jawa Timur,dan lain-lain.
Proses pembuatan batik memerlukan tahapan-tahapan yang tidak mudah,apalagi ketika pembuatan batik tulis.Dimulai dari bahan mori hingga proses ngelorod perlu waktu yang lama dan tahapan-tahapan yang tidak mudah. Oleh karenanya,kami sebagai penulis tertarik untuk membahas proses pembuatan batik dengan tujuan menambah wawasan para pembaca mengenai batik yang juga merupakan kebudayaan milik indonesia.
Zaman sekarang batik sudah mulai berkembang tidak dipakai di keraton saja atau dipakai oleh bangsawan saja.Namun rakyat biasapun sudah tidak canggung lagi untuk memakainya.Batik tidak hanya dibuat untuk berbagai hiasan atau pernak-pernik lainnya,seperti tas,topi,dompet,dan lain sebagainya. Pabrik batik Danar Hadi Solo merupakan salah satu yang sudah terkenal di Indonesia.Tidak hanya di Solo juga buka di Jakarta.

1.2  Alasan Pemilihan Judul
Alasan kami memilih judul”proses pembuatan batik di danar hadi solo”pada karya tulis ini adalah untuk mendorong minat baca para pembaca untuk mengetahui lebih dalam mengenai batik dan proses pembuatannya sehingga dapat menambah wawasan yang baru dan lebih luas.

1.3  Metode Penelitian
Sebelum penulis menulis karya tulis, terlebih dahulu mengadakan pengumpulan data dari berbagai sumberyang berhubungan dengan masalah yang diambil untuk pembuatan karya tulis.
Adapun metode penelitian dalam pembuatan karya tulis adalah dengan:
a.       tinjauan langsung ke batik danar hadi solo;
b.      sumber-sumber dari media lain,seperti internet,buku,dan lain-lain.


1.4  Sistematika Penulisan
Utuk memudahkan penelitian dalam menulis karya tulis,maka kami membuat sistematika penulisan sebagai berikut:
JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
1.2  Masalah Penelitian
1.3  Alasan Pemilihan Judul
1.4  Metode Penelitian
1.5  Sistematika Penelitian
BAB II LANDASAN TEORITIS
2.1  Asal-Usul Batik
2.2  Sejarah Teknik Batik
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Macam-Macam Batik Di Indonesia
3.2 Proses Pembuatan Batik Di Danar Hadi Solo
3.3 Zat Yang Terkandung Dalam Cairan Batik
BAB IV SIMPULAN DAN SARAN
4.1 Simpulan
4.2 saran
DAFTAR PUSTAKA


BAB II
LANDASAN TEORI


2.1  Asal Usul Batik
Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009.

2.2  Sejarah Teknik Batik
Detail ukiran kain yang dikenakan Prajnaparamita, arca yang berasal dari Jawa Timur abad ke-13. Ukiran pola lingkaran dipenuhi kembang dan sulur tanaman yang rumit ini mirip dengan pola batik tradisional Jawa.
Seni pewarnaan kain dengan teknik perintang pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T'ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal.
Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.
Walaupun kata "batik" berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. [2]Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuna membuat batik.
G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.[4] Detil ukiran kain yang menyerupai pola batik dikenakan oleh Prajnaparamita, arca dewi kebijaksanaan buddhis dari Jawa Timur abad ke-13. Detil pakaian menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-kembang rumit yang mirip dengan pola batik tradisional Jawa yang dapat ditemukan kini. Hal ini menunjukkan bahwa membuat pola batik yang rumit yang hanya dapat dibuat dengan canting telah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau bahkan lebih awal.
Legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa.[5] Oleh beberapa penafsir,who? serasah itu ditafsirkan sebagai batik.
Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.
Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Pada saat yang sama imigran dari Indonesia ke Persekutuan Malaya juga membawa batik bersama mereka.
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa pada masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga pada masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.
Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.
Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga memopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru.
BAB III
PEMBAHASAN


3.1  Macam-macam Batik di Indonesia
Sebagai warga Negara Indonesia kita harus bisa berbangga hati. Karena di Indonesia banyak sekali keanekaragaman suku, budaya, adat istiadat, agama, dan kesenian yang begitu beraneka ragam. Salah satunya dalam bidang fashion. Di Indonesia terdapat kain bermotif yang tidak dapat dikunjungi di negara lain dan memiliki corak yang unik sekaligus menarik. Kain tersebut biasa kita sebut dengan kain batik. Corak dan motif batik Indonesia sendiri sangat banyak, ada yang merupakan motif asli dari nenek moyang bangsa kita dan ada juga yang merupakan akulturasi dengan bangsa lain.
Di bawah ini merupakan macam-macam batik yang terdapat di Indonesia :  :
A.    Batik Kraton


Batik Kraton awal mula dari semua jenis batik yang berkembang di Indonesia. Motifnya mengandung makna filosofi hidup. Batik-batik ini dibuat oleh para putri kraton dan juga pembatik-pembatik ahli yang hidup di lingkungan kraton. Pada dasarnya motifnya terlarang untuk digunakan oleh orang “biasa” seperti motif Parang Barong, Parang Rusak termasuk Udan Liris, dan beberapa motif lainnya.

B.     Batik Sudagaran


Motif larangan dari kalangan keraton merangsang seniman dari kaum saudagar untuk menciptakan motif baru yang sesuai selera masyarakat saudagar. Mereka juga mengubah motif larangan sehingga motif tersebut dapat dipakai masyarakat umum. Desain batik Sudagaran umumnya terkesan “berani” dalam pemilihan bentuk, stilisasi atas benda-benda alam atau satwa, maupun kombinasi warna yang didominasi warna soga dan biru tua. Batik Sudagaran menyajikan kualitas dalam proses pengerjaan serta kerumitan dalam menyajikan ragam hias yang baru. Pencipta batik Sudagaran mengubah batik keraton dengan isen-isen yang rumit dan mengisinya dengan cecek (bintik) sehingga tercipta batik yang amat indah.






C.    Batik Petani

Batik yang dibuat sebagai selingan kegiatan ibu rumah tangga di rumah di kala tidak pergi ke sawah atau saat waktu senggang. Biasanya batik ini kasar dan kagok serta tidak halus. Motifnya turun temurun sesuai daerah masing-masing dan batik ini dikerjakan secara tidak profesional karena hanya sebagai sambilan. Untuk pewarnaan pun diikutkan ke saudagar.

D.    Batik Belanda

Warga keturunan Belanda banyak yang tertarik dengan batik Indonesia. Mereka membuat motif sendiri yang disukai bangsa Eropa. Motifnya berupa bunga-bunga Eropa, seperti tulip dan motif tokoh-tokoh cerita dongeng terkenal di sana.






E.     Batik Jawa Hokokai


Pada masa penjajahan Jepang di pesisir Utara Jawa lahir ragam batik tulis yang disebut batik Hokokai. Motif dominan adalah bunga seperti bunga sakura dan krisan. Hampir semua batik Jawa Hokokai memakai latar belakang (isen-isen) yang sangat detail seperti motif parang dan kawung di bagian tengah dan tepiannya masih diisi lagi, misalnya motif bunga padi.
Marilah kita jaga semua kekayaan yang ada di negeri kita. Jangan sampai timbul lagi masalah yang sama seperti masalah Malaysia menghakpatenkan kekayan bangsa kita untuk negaranya. Mari kita lestarikan semua kekayaan di negeri kita.


3.2  Proses Pembuatan Batik di Danar Hadi Solo
Dari dulu hingga sekarang, proses pembuatan batik tidak banyak mengalami perubahan. Kegiatan membatik merupakan salah satu kegiatan tradisional yang terus dipertahankan agar tetap konsisten seperti bagaimana asalnya. Walaupun motif dan corak batik di masa kini sudah beraneka ragam, proses pembuatan batik pada dasarnya masih sama.
Berikut ini adalah uraian lebih detailnya:

A.    Perlengkapan Membatik
Perlengkapan membatik tidak banyak mengalami perubahan. Dilihat dari peralatan dan cara mengerjakannya, membatik dapat digolongkan sebagai suatu kerja yang bersifat tradisional.
1.      Gawangan
Gawangan adalah perkakas untuk menyangkutkan dan membentangkan mori sewaktu dibatik. Gawangan terbuat dari kayu atau bambu. Gawangan harus dibuat sedemikian rupa hingga kuat, ringan, dan mudah dipindah-pindah.

2.      Bandul
Bandul dibuat dari timah, kayu, atau batu yang dimasukkan ke dalam kantong. Fungsi pokok bandul adalah untuk menahan agar mori yang baru dibatik tidak mudah tergeser saat tertiup angin atau tertarik oleh si pembatik secara tidak sengaja.

3.      Wajan
Wajan adalah perkakas utuk mencairkan malam. Wajan dibuat dari logam baja atau tanah liat. Wajan sebaiknya bertangkai supaya mudah diangkat dan diturunkan dari perapian tanpa menggunakan alat lain.

4.      Kompor
Kompor adalah alat untuk membuat api. Kompor yang biasa digunakan adalah kompor berbahan bakar minyak. Namun terkadang kompor ini bisa diganti dengan kompor gas kecil, anglo yang menggunakan arang, dan lain-lain. Kompor ini berfungsi sebagai perapian dan pemanas bahan-bahan yang digunakan untuk membatik.

5.      Taplak
Taplak adalah kain untuk menutup paha si pembatik agar tidak terkena tetesan malam panas sewaktu canting ditiup atau waktu membatik.
6.      Saringan Malam
Saringan adalah alat untuk menyaring malam panas yang memiliki banyak kotoran. Jika malam tidak disaring, kotoran dapat mengganggu aliran malam pada ujung canting. Sedangkan bila malam disaring, kotoran dapat dibuang sehingga tidak mengganggu jalannya malam pada ujung canting sewaktu digunakan untuk membatik.
Ada bermacam-macam bentuk saringan, semakin halus semakin baik karena kotoran akan semakin banyak tertinggal. Dengan demikian, malam panas akan semakin bersih dari kotoran saat digunakan untuk membatik.

7.      Canting
Canting adalah alat yang dipakai untuk memindahkan atau mengambil cairan, terbuat dari tembaga dan bambu sebagai pegangannya. Canting ini dipakai untuk menuliskan pola batik dengan cairan malam. Saat ini, canting perlahan menggunakan bahan teflon.

8.      Mori
Mori adalah bahan baku batik yang terbuat dari katun. Kualitas mori bermacam-macam dan jenisnya sangat menentukan baik buruknya kain batik yang dihasilkan. Mori yang dibutuhkan disesuaikan dengan panjang pendeknya kain yang diinginkan.
Tidak ada ukuran pasti dari panjang kain mori karena biasanya kain tersebut diukur secara tradisional. Ukuran tradisional tersebut dinamakan kacu. Kacu adalah sapu tangan, biasanya berbentuk bujur sangkar.
Jadi, yang disebut sekacu adalah ukuran persegi mori, diambil dari ukuran lebar mori tersebut. Oleh karena itu, panjang sekacu dari suatu jenis mori akan berbeda dengan panjang sekacu dari mori jenis lain.
Namun di masa kini, ukuran tersebut jarang digunakan. Orang lebih mudah menggunakan ukuran meter persegi untuk menentukan panjang dan lebar kain mori. Ukuran ini sudah berlaku secara nasional dan akhirnya memudahkan konsumen saat membeli kain batik. Cara ini dapat mengurangi kesalahpahaman dan digunakan untuk menyamakan persepsi di dalam sistem perdagangan.

9.      Malam (Lilin)
Malam (lilin) adalah bahan yang dipergunakan untuk membatik. Sebenarnya malam tidak habis (hilang) karena pada akhirnya malam akan diambil kembali pada proses mbabar, proses pengerjaan dari membatik sampai batikan menjadi kain. Malam yang dipergunakan untuk membatik berbeda dengan malam (lilin) biasa. Malam untuk membatik bersifat cepat diserap kain, tetapi dapat dengan mudah lepas ketika proses pelorodan.

10.  Dhingklik (Tempat Duduk)
Dhingklik (tempat duduk) adalah tempat untuk duduk pembatik. Biasanya terbuat dari bambu, kayu, plastik, atau besi. Saat ini, tempat duduk dapat dengan mudah dibeli di toko-toko.

11.  Pewarna Alami
Pewarna alami adalah pewarna yang digunakan untuk membatik. Pada beberapa tempat pembatikan, pewarna alami ini masih dipertahankan, terutama kalau mereka ingin mendapatkan warna-warna yang khas, yang tidak dapat diperoleh dari warna-warna buatan. Segala sesuatu yang alami memang istimewa, dan teknologi yang canggih pun tidak bisa menyamai sesuatu yang alami.
Itulah jenis perlengkapan membatik yang harus ada. Proses membatik memerlukan waktu yang cukup lama, terlebih kalau kain yang dibatik sangat luas dan coraknya cukup rumit.




B.     Proses Membatik
Di masa kini, pengusaha batik juga menyediakan pendidikan batik kilat pada anak-anak sekolah dan masyarakat umum. Yang diajarkan adalah tata cara membatik dengan benar, dan biasanya menggunakan kain selebar saputangan sebagai percobaan. Dengan demikian, proses membatik itu dapat dikerjakan hanya dalam beberapa jam dan biaya yang diperlukan pun sangat kecil. Tradisi ini sangat bagus untuk memperkenalkan proses membatik kepada masyarakat, terutama generasi muda.
Berikut ini adalah proses membatik yang berurutan dari awal hingga akhir. Penamaan atau penyebutan cara kerja di tiap daerah pembatikan bisa berbeda-beda, tetapi inti yang dikerjakannya adalah sama.
1.      Ngemplong
Ngemplong merupakan tahap paling awal atau pendahuluan, diawali dengan mencuci kain mori. Tujuannya adalah untuk menghilangkan kanji. Kemudian dilanjutkan dengan pengeloyoran, yaitu memasukkan kain mori ke minyak jarak atau minyak kacang yang sudah ada di dalam abu merang. Kain mori dimasukkan ke dalam minyak jarak agar kain menjadi lemas, sehingga daya serap terhadap zat warna lebih tinggi.
Setelah melalui proses di atas, kain diberi kanji dan dijemur. Selanjutnya, dilakukan proses pengemplongan, yaitu kain mori dipalu untuk menghaluskan lapisan kain agar mudah dibatik.

2.      Nyorek atau Memola
Nyorek atau memola adalah proses menjiplak atau membuat pola di atas kain mori dengan cara meniru pola motif yang sudah ada, atau biasa disebut dengan ngeblat. Pola biasanya dibuat di atas kertas roti terlebih dahulu, baru dijiplak sesuai pola di atas kain mori. Tahapan ini dapat dilakukan secara langsung di atas kain atau menjiplaknya dengan menggunakan pensil atau canting. Namun agar proses pewarnaan bisa berhasil dengan baik, tidak pecah, dan sempurna, maka proses batikannya perlu diulang pada sisi kain di baliknya. Proses ini disebut ganggang.

3.      Mbathik
Mbathik merupakan tahap berikutnya, dengan cara menorehkan malam batik ke kain mori, dimulai dari nglowong (menggambar garis-garis di luar pola) dan isen-isen (mengisi pola dengan berbagai macam bentuk). Di dalam proses isen-isen terdapat istilah nyecek, yaitu membuat isian dalam pola yang sudah dibuat dengan cara memberi titik-titik (nitik). Ada pula istilah nruntum, yang hampir sama dengan isen-isen, tetapi lebih rumit.

4.      Nembok
Nembok adalah proses menutupi bagian-bagian yang tidak boleh terkena warna dasar, dalam hal ini warna biru, dengan menggunakan malam. Bagian tersebut ditutup dengan lapisan malam yang tebal seolah-olah merupakan tembok penahan.

5.      Medel
Medel adalah proses pencelupan kain yang sudah dibatik ke cairan warna secara berulang-ulang sehingga mendapatkan warna yang diinginkan.

6.      Ngerok dan Mbirah
Pada proses ini, malam pada kain dikerok secara hati-hati dengan menggunakan lempengan logam, kemudian kain dibilas dengan air bersih. Setelah itu, kain diangin-anginkan.

7.      Mbironi
Mbironi adalah menutupi warna biru dan isen-isen pola yang berupa cecek atau titik dengan menggunakan malam. Selain itu, ada juga proses ngrining, yaitu proses mengisi bagian yang belum diwarnai dengan motif tertentu. Biasanya, ngrining dilakukan setelah proses pewarnaan dilakukan.

8.      Menyoga
Menyoga berasal dari kata soga, yaitu sejenis kayu yang digunakan untuk mendapatkan warna cokelat. Adapun caranya adalah dengan mencelupkan kain ke dalam campuran warna cokelat tersebut.

9.      Nglorod
Nglorod merupakan tahapan akhir dalam proses pembuatan sehelai kain batik tulis maupun batik cap yang menggunakan perintang warna (malam). Dalam tahap ini, pembatik melepaskan seluruh malam (lilin) dengan cara memasukkan kain yang sudah cukup tua warnanya ke dalam air mendidih. Setelah diangkat, kain dibilas dengan air bersih dan kemudian diangin-arginkan hingga kering. Proses membuat batik memang cukup lama. Proses awal hingga proses akhir bisa melibatkan beberapa orang, dan penyelesaian suatu tahapan proses juga memakan waktu. Oleh karena itu, sangatlah wajar jika kain batik tulis berharga cukup tinggi.

3.3  Zat yang Terkandung dalam Cairan Batik
A.    Soda Api (NaOH)
Sodium hidroksida tersedia dalam bentuk serpihan-serpihan (konsentrat 100%) atau dalam bentuk cair dengan konsentrasi yang bermacam-macam.
Penggunaan dalam industri Batik
1.      Fiksasi pewarna-pewarna reaktif
2.      Pewarnaan dengan Indigo dan Naftol
3.      Untuk mengontrol nilai pH
4.      Proses pengelantangan dengan hidrogen peroksida

Resiko:
1.      Pengeksposan kulit terhadap sodium hidroksida dapat menyebabkan iritasi hidung, pneumonitis, kerontokan rambut sementara, edema interselular, erythema, pembusukan zat keratin, dan terbakar.
2.      Kontak dengan mata dapat mengakibatkan luka bernanah, perforasi, opasifikasi, dan kebutaan.
3.      Penghirupan atau penelanan dapat merusak sistem pernapasan dan gastrointestinal dengan penyakit penyumbatan paru-paru yang tidak dapat disembuhkan, batuk-batuk, terbakar, kesulitan bernapas, koma dan bahkan kanker saluran esofagus/ kerongkongan.

Kulit terbakar setelah kontak dengan sodium hidroksida
Perlindungan:
Pakaian                  : Gunakan pakaian pelindung, termasuk sepatu boot,
   sarung tangan, kacamata pengaman dan/atau
   lapisan pelindung seluruh wajah, jika debu atau
   percikan cairan mungkin terjadi.
Penanganan          : Saat menyiapkan cairan, aduk cairan terus
   menerus untuk menghindari berkembangnya
  "bintik-bintik panas".
Di tempat kerja    : Pastikan ventilasi yang cukup dan letakkan keran
  untuk mencuci mata dan fasilitas pancuran air
  yang dapat dijangkau dengan cepat di area kerja.
Penyimpanan        : Sebaiknya disimpan di wadah kedap udara.

B.     Asam Klorida (HCl)
HCl adalah cairan kekuning-kuningan dengan aroma kuat yang menusuk; bersifat sangat korosif.  Penggunaan dalam industri Batik  Sebagai unsur saponifikasi bagi zat warna Indigosol
Resiko:
1.      Ekspos pada tingkatan tinggi: Kebutaan, bernapas dengan cepat, penyempitan bronkiolus, warna biru pada kulit, pengumpulan cairan di paru-paru, dan bahkan kematian, pembengkakan dan kejang pada tenggorokan dan mati lemas.
2.      Pada beberapa orang mungkin menyebabkan asma.
3.      Ekspos jangka panjang pada tingkatan
4.      rendah: Masalah-masalah pernapasan, iritasi pada mata dan kulit, serta perubahan warna pada gigi.
5.      Kontak dengan asam klorida: Akan mengakibatkan terbakarnya kulit dengan serius.
6.      Zat pekat menyebabkan kulit terbakar parah

Pelindung:
Pakaian                  : Gunakan pakaian pelindung di antaranya sepatu
  boot, sarung tangan, kacamata pengaman dan/atau
  lapisan pelindung seluruh wajah, jika debu atau
  percikan cairan mungkin terjadi.
Penyimpanan        : Asam klorida harus disimpan dalam wadah
  berbahan plastik polimer (PE) tertutup. Zat ini
  bersifat sangat korosif.

C.    Sodium Nitrit (NaNO)
Sodium nitrit adalah bubuk kristal putih kekuning-kuningan yang dapat dilarutkan dalam air. Senyawanya adalah agen oksidasi yang kuat.  Penggunaan dalam industri Batik  Sebagai unsur oksidasi untuk pembentukan pewarna tangki (vat dye) Leuco menjadi bentuk yang tidak dapat dilarutkan (fiksasi)
Resiko:
1.      Kontak mata: Menyebabkan iritasi, mata  merah dan sakit.
2.      Penghirupan: Beracun. Menyebabkan  iritasi pada sistem pernapasan dan  keracunan sistemik.
3.      Penelanan: Beracun. Dapat mengiritasi  mulut, saluran esofagus/ kerongkongan,  perut, dll. Jumlah yang melampaui batas  dapat mempengaruhi darah dan pembuluh  darah. Tanda dan gejala-gejala keracunan  nitrit meliputi cyanosis yang hebat, mual,
4.      Iritasi mata setelah kontak mata langsung dengan sodium nitrit  pusing, muntah dan pingsan, sakit perut yang disertai kejang-kejang, debar  jantung cepat, napas tidak teratur, koma, sawan, dan kematian karena gagal peredaran darah.
5.      Kontak kulit: Menyebabkan iritasi, kulit merah dan sakit. Mungkin diserap melalui kulit menyebabkan keracunan sistemik; gejala-gejalanya mungkin sejajar dengan penelanan.

Perlindungan:
Penyimpanan         : Simpan dalam wadah berbahan plastic
                                 polimer (PE) tertutup, simpan dalam suhu sejuk
  dan kering, serta memungkinkan adanya aliran
  udara. Lindungi dari kerusakan fisik dan
  kelembaban. Isolasikan dari sumber panas apapun
  atau bahan-bahan yang mudah terbakar.
Ventilasi               : Dibutuhkan ventilasi yang baik.
Pakaian                 : Gunakan pakaian pelindung seperti sepatu boot,
  sarung tangan, kacamata pengaman dan/atau
  lapisan pelindung seluruh wajah, jika debu atau
  percikan cairan mungkin terjadi.

D.    Hidrogen Peroksida (HO)
Hidrogen peroksida berbentuk cairan jernih. Zat ini memiliki sifat oksidasi yang kuat dan merupakan agen pengelantangan yang hebat. Hidrogen peroksida juga mudah terbakar.  Penggunaan dalam industri Batik: Untuk pengelantangan oksidatif pada katun, Oksidasi pewarnaan dengan Indigo dan pewarna tangki (vat dyes)



Resiko:
1.      Penghirupan zat konsentrasi tinggi:  Menyebabkan iritasi sangat keras pada hidung,  paru-paru, dan tenggorokan. Gejala-gejala  yang khas meliputi: sakit kepala, pusing,  muntah, diare, gemetar, mati rasa, sawan,  edema pada paru-paru dan kehilangan  kesadaran.
2.      Kontak mata: Menyebabkan mata pedih dan  berair dan percikan zat konsentrasi tinggi  menyebabkan kerusakan parah pada kornea.
3.      Kontak kulit: Menyebabkan pemutihan atau  pengelantangan sementara pada kulit; jika kulit tidak dicuci dengan segera, kulit kemerahan dan melepuh mungkin terjadi.  Dampak pada kulit segera setelah terekspos 30% H2O2
4.      Penelanan: Menyebabkan iritasi pada sistem gastrointestinal bagian atas dan kerusakan parah pada saluran esofagus/ kerongkongan dan perut. Hidrogen peroksida telah terbukti menyebabkan kerusakan DNA (genetik) pada sistem pengujian manusia di laboratorium.

Perlindungan:
Penanganan umum            : Cuci tangan, lengan bawah, dan wajah
   dengan sabun dan air sebelum makan.
   Jangan makan, minum, menggunakan
   produk tembakau, menggunakan kosmetik,
   atau minum obat di lokasi di mana
   hidrogen peroksida atau cairan yang 
   mengandung hidrogen peroksida
  ditangani, diproses, atau disimpan.
Penyimpanan                    : Di tempat yang sejuk, kering, berventilasi
  baik dalam wadah yang tersegel rapat.
Clothing                           : Gunakan pakaian pelindung seperti sepatu
                    boot, sarung tangan, kacamata pengaman
                    dan/atau lapisan pelindung seluruh wajah,
 jika debu atau percikan cairan mungkin
 terjadi.
E.     Sodium Ditionit (NaSO)
Sodium ditionit (juga dikenal dengan sodium hidrosulfit) adalah bubuk kristal putih dengan aroma belerang. Senyawa ini adalah garam yang larut dalam air, dan dapat digunakan sebagai agen pereduksi dalam bentuk larutan encer.
Penggunaan dalam industri Batik: Untuk pengelantangan reduktif pada katun, Reduksi pewarna tangki (vat dyes) dan Indigo ke dalam bentuk yang dapat larut dalam air
Resiko:
1.      Kontak dengan api/ air: Sodium ditionit adalah zat yang sangat mudah terbakar. Menumpahkannya dengan campuran air dapat menciptakan api atau bahaya ledakan. Wadahnya dapat meledak jika dipanaskan. Dapat bereaksi eksplosif jika bersentuhan dengan air.
2.      Penghirupan: Gasnya bersifat korosif dan/ atau beracun. Jika terhirup, akan menyebabkan cedera parah atau kematian.
3.      Kontak dengan zat: Menyebabkan rasa terbakar parah pada kulit dan mata.  Lengan setelah kontak dengan zat kimia

Perlindungan:
Penyimpanan         : Simpan di tempat yang sejuk dan berventilasi,
  serta jauh dari bahan yang mudah terbakar. Jaga
  agar wadah selalu tertutup rapat dan tersegel
  hingga siap untuk digunakan. Pisahkan dari bahan
  bahan kimia yang mengandung asam dan/atau
  alkali, serta mudah terbakar.
Pakaian                 : Gunakan pakaian pelindung seperti sepatu boot,
  sarung tangan, kacamata pengaman dan/atau
  lapisan pelindung seluruh wajah, jika debu atau
  percikan cairan mungkin terjadi.



F.     Sodium Karbonat (NaCO)
Sodium karbonat adalah bubuk kristal putih yang dikenal juga sebagai abu soda.  Penggunaan dalam industri Batik: Untuk menyesuaikan pH pada kolam pewarna, Memperbaiki kemurnian pada pewarna dalam proses pewarnaan
Resiko:
1.      Penghirupan: Menyebabkan iritasi pada sistem pernapasan. Gejala-gejala akibat penghirupan debu yang terlalu banyak dapat berupa batuk-batuk dan kesulitan bernapas. Kontak yang melampaui batas diketahui menyebabkan kerusakan pada dinding penyekat hidung.
2.      Penelanan: Hanya sedikit beracun, tetapi dalam dosis besar mungkin membakar sistem gastrointestinal, gejala-gejalanya dapat berupa sakit parah pada daerah perut, muntah, diare, dalam dosis tinggi menyebabkan pingsan dan kematian.
3.      Kontak kulit: Kontak yang berlebihan  dapat menyebabkan iritasi dengan lepuhan dan kemerahan. Cairannya dapat menyebabkan iritasi parah atau terbakar pada kulit.
4.      Kontak mata: Kontak dapat bersifat korosif bagi mata dan menyebabkan edema konjungtival dan kehancuran kornea mata.

Perlindungan:
Penyimpanan         : Zat ini bersifat lembab dan cenderung menjadi
  lengket dalam penyimpanan. Simpan di tempat
  yang sejuk, kering, dan berventilasi baik. Jaga agar
  wadah selalu tertutup rapat.
Pakaian                 : Gunakan pakaian pelindung seperti sepatu boot,
  sarung tangan, kacamata pengaman dan/atau
  lapisan pelindung seluruh wajah, jika debu atau
  percikan cairan mungkin terjadi.
Lain-lain               : Siapkan ventilasi mekanik dan pancuran air dan
  pencuci mata darurat.

G.    Sodium Silikat (Na2SiO3)
Sodium silikat (water glass), upas, sangat kental, adalah a senyawa alkali yang kuat.  Penggunaan dalam industri Batik: Digunakan sebagai bahan pengikat untuk zat-zat pewarna reaktif, Sebagai stabilisator dalam proses pengelantangan dengan peroksida
Resiko:
1.      Kontak kulit: Dapat mengakibatkan luka  bernanah berulang-ulang yang menahun,  seperti urtikaria sentuhan.
2.      Kontak mata: Kontak secara langsung  dapat menyebabkan iritasi parah, nyeri  dan rasa terbakar, mungkin pula terjadi  kerusakan permanent dan parah  termasuk kebutaan.
3.      Penghirupan zat silikat menyebabkan  fibrogenesis pada paru-paru.
4.      Penelanan: Dapat menyebabkan nyeri  seketika dan rasa terbakar yang parah  pada saluran esofagus/ kerongkongan dan sistem gastrointestinal dengan muntah, mual, dan diare.
5.      Dapat menyebabkan pembengkakan dan kehancuran jaringan pada membran mukosa di mulut, tenggorokan, saluran esofagus/ kerongkongan, dan perut.
6.      Chronic ulcerative lesions after contact with sodium silicate

Perlindungan:
Penanganan           : Cuci seluruhnya setelah penanganan.
Penyimpanan         : Jaga wadah agar selalu tertutup rapat dan dilabeli
  dengan tepat. Jangan simpan dalam wadah
  aluminium atau menggunakan perabotan atau alur
  pemindah dari aluminium, karena dapat
  menghasilkan gas hidrogen. Tetap pisahkan dari
  zat-zat yang bertentangan.
Pakaian                 : Gunakan pakaian pelindung seperti sepatu boot,
  sarung tangan, kacamata pengaman dan/atau
  lapisan pelindung seluruh wajah, jika debu atau
  percikan cairan mungkin terjadi.
H.    Zat Pewarna Secara Umum
Hindari penggunaan zat warna Naftol; zat warna tersebut memiliki resiko tinggi terhadap kesehatan.  Beberapa zat warna Azo –N=N- bersifat karsinogenik; dalam zat-zat warna Benzidin tertentu. Zat pewarna sebaiknya ditangani sebagaimana bahan-bahan kimia lainnya dengan hati-hati. Jangan makan, merokok, minum jika terdapat bahan-bahan kimia atau memegangnya dalam proses pewarnaan. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya reaksi kimia yang tidak diharapkan pada tubuh Anda.
Hindari penghirupan serbuk pewarna. Hindari kontak kulit dengan bubuk pewarna, khususnya dengan cairan pewarna. Kulit dapat menyerap bahan kimia tersebut. Ekspos jangka panjang terhadap zat-zat warna yang kritis dan berbahaya dapat mengakibatkan kefatalan – prosesnya dalam tubuh Anda dapat berlangsung puluhan tahun.
Dengan mengenakan barang-barang tekstil, contohnya kemeja Batik atau gaun Batik – yang diwarnai dengan zat-zat warna berbahaya, bahkan setelah dicuci sebelum dipakai, dapat menyebabkan iritasi kulit dan eksim.

I.       Zat Warna Naftol
Pewarna Naftol, dikarenakan sifat alamiahnya yang berbahaya dan karsinogen, tidak diproduksi lagi di Uni Eropa (UE) dan dilarang penggunaannya di EU sebagaimana juga larangan untuk mengimpor produk jadinya.
Beberapa garam diazonium yang bersifat karsinogenik dapat diserap langsung bahkan melalui kulit yang sehat.  Penggunaan dalam industri Batik: Digunakan bersama garam diazonium untuk mewarnai katun yang digunakan untuk Batik dalam suhu ruang.
Resiko:
1.      Penghirupan: Menyebabkan iritasi pada sistem  pernapasan. Gejalanya mungkin meliputi batuk-batuk,  sesak napas. Penghirupan terekspos dapat menjadi fatal.
2.      Penelanan dalam dosis besar: Dapat menyebabkan  keram dan nyeri perut, muntah, berkeringat, kerusakan  hati, gangguan fungsi tekanan darah, radang ginjal, diare,  anemia, sawan, dan kematian (perkiraan dosis mematikan 5 gram)
3.      Kontak kulit: Dapat menyebabkan kemerahan parah dan nyeri. Mungkin diserap melalui kulit dengan gejala-gejala separah penelanan dan menyebabkan kerusakan ginjal.
4.      Tindakan lokal dapat menyebabkan pengelupasan kulit yang mungkin disertai dengan pigmentasi yang membandel.
5.      Kontak mata: Menyebabkan iritasi, kemerahan, nyeri dan luka pada kornea dan lensa mata.
6.      Ekspos secara kronis: Ekspos yang berkepanjangan dan berulang-ulang pada kulit dapat menyebabkan infeksi kulit.
7.      Iritasi parah pada kulit setelah kontak dengan naftol

Perlindungan:
Penanganan           : Jangan membuang produk ke lingkungan sekitar.
  Jangan makan, minum, atau merokok saat bekerja
  dan pelajari prinsip-prinsip kebersihan diri. Cuci
  bagian tubuh yang terekspos dengan sabun seusai
  bekerja.
Pakaian                 : Gunakan pakaian pelindung seperti sepatu boot,
  sarung tangan, kacamata pengaman dan/atau
  lapisan pelindung seluruh wajah, jika debu atau
  percikan cairan mungkin terjadi.
Penyimpanan        : Simpan pada kemasan asal di tempat yang kering
  dan terlindung dari kondisi cuaca secara langsung.





BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

4.1  Simpulan
Penelitian yang langsung dilaksanakan di lapangan menghasilkan berbagai kesimpulan sebagai berikut:
a.       Batik merupakan kebudayaan milik indonesia yang harus dilestarikan dan kita selaku generasi penerus harus bangga dengan macam-macam batik yang ada.
b.      Di Indonesia berbagai macam jenis dan motif batik.Disetiap daerah memiliki motif yang berbeda.
c.       Proses pengolahan batik memerlukan tahapan yang panjang dan ketelitian yang cukup sehingga menghasilkan motif batik yang sempurna.
d.      Berbagai macam batik mulai banyak zaman sekarang seperti batik tulis,batik cap,batik printing,dan lain-lain.

4.2  Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah kami buat,maka beberapa saran penulis diajukan sebagai berikut.
a.    Batik sangatlah penting bagi indonesia karena batik merupakan ciri khas bangsa indonesia dan merupakan budaya,identitas yang tidak bisa dilepaskan dari bangsa indonesia.
b.   Mengingat bahwa batik telah diklaim oleh negara lain,maka kita dianjurkan bahkan diwajibkan menjaga kebudayaan batik yang kita miliki.
c.    Mengingat indonesia khususnya yogyakarta dan sekitarnya sangat identik dengan batik ada baiknya jika kebudayaan batik indonesia dilestarikan oleh rakyat indonesia itu sendiri





DAFTAR PUSTAKA






0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Host